Friday, March 25, 2011

Hukum Kelaziman (dari buku Jangan Pulang Sebelum Menang)

Hukum Kelaziman
Cobalah sekali waktu anda bertanya ke orang di sudut jalan kota Jakarta, “dimanakah letak Komdak?”. Hampir semuanya akan segera menunjuk sebuah tempat bertuliskan Polda Metro Jaya yang berlokasi di dekat Jembatan Semanggi.
Jangan kecewa, di sana tidak ada tulisan Komdak. Komdak itu sendiri entah nama apa, mungkin dulunya bernama Komando Daerah Kepolisian disingkat Komdak. Begitu melekatnya nama Komdak, penduduk Jakarta sudah tidak peduli lagi dengan pergantian nama. Bahkan singkatan Komdak pun jarang yang tahu, termasuk saya.
Perubahan nama Komdak menjadi Polda tentunya punya maksud baik. Tapi dalam kehidupan masyarakat, termasuk dunia bisnis, ada semacam hukum dimana yang sudah terbiasa dipakai konsumen, itulah yang dianggap benar. Kita menyebutnya kelaziman.
Tanadi Santoso, seorang konsultan bisnis, punya cerita menarik mengenai keyboard  komputer (lihat www.tanadisantoso.com). Suatu hari anaknya bertanya, ”Pap, keyboardnya komputer ini kok ngatur ’abc’-nya seperti ini ? Kok bisa susunannya ’qwerty’. Bukankah ’a’ seharusnya di sebelah sini bukan di sebelah sana. Mengapa ?”

Pertanyaan tersebut bisa jadi mewakili pertanyaan saya dan banyak orang, dimana sebelumnya saya tidak dapat menemukan jawabannya. Pernah saya ditanya hal yang sama, jawaban saya,” ini kemungkinan merupakan hasil kesepakatan internasional” (jawaban orang dewasa supaya tidak kelihatan bego hahaha).

Menurut Tanadi, dulu pada saat belum ada komputer, orang mengetik menggunakan mesin ketik. Mesin mekanikal yang butuh dorongan tenaga dari jari-jari kita. Kalau ditekan 2 huruf sama cepatnya sering nyantol. Kalau huruf-huruf ditata sedemikian gampang ditekan dengan jari telunjuk, apa yang akan terjadi ? Orang akan mengetik terlalu cepat menjadikan mesin tiknya cepat rusak. Sehingga untuk membuat supaya lebih lambat, sengaja dibuat sulit. Sengaja dibuat tidak enak agar mengetiknya perlahan-lahan.

Dan menariknya setelah ditemukan komputer, keyboardnya tetap mengikuti pola mesin ketik. Meski ditemukan cara penyusunan huruf yang baru, sehingga bisa lebih enak lagi, bisa lebih cepat lagi, tapi tetap saja orang-orang akan memakai susunan ’qwerty’ ini. Karena apa ? Karena sudah menjadi kebiasaan orang. Karena semua orang sudah lazim memakai cara ini. Semua orang sudah belajar tentang cara yang ini.

Kisah Komdak maupun keyboard komputer hakekatnya sama. Yang sudah lazim dipakai masyarakat itulah yang mendominasi masyarakat, dalam bahasa bisnis, dikatakan mendominasi pasar. Dari kisah ini kita dapat melihat bahwa sebuah hal yang baik belum tentu paling banyak dipakai oleh orang. Kalau anda masih ingat jaman video dulu, ada dua jenis video yang saling bersaing, yaitu Betamax vs VHS. Betamax secara teknologi lebih kecil, lebih bagus, lebih canggih, tapi VHS lebih mendunia. Kenapa ? Karena VHS keluar lebih dulu dan lebih diterima orang-orang.

Software pun juga sama. Kenapa semua orang pakai Microsoft Office ?
Karena orang lain pakai ini semua. Ini menjadi sebuah kebiasaan. Maka kita harus sadar bahwa yang paling laku, paling sukses belum mesti sesuatu yang paling bagus. Bahwa secara logis ”yang terbaik adalah yang berhak atas kesuksesan” itu memang benar, tapi kenyataan berbicara berbeda.

Jadi "qwerty" keyboard bukanlah cara menulis terbaik, tapi mempunyai hak untuk mendapatkan "kesuksesan" seperti sekarang. Karena alasan lebih dulu terpakai orang, sehingga orang menjadi malas mengubahnya.
Dan ternyata semua orang di dunia memakai ini semua. pi

Istilah Komdak juga menjadi nama “resmi” masyarakat karena nama itulah yang lebih dulu populer. Meski diganti nama berkali-kali, yang berhak populer adalah nama Komdak, bukan yang lain. Bila anda menjadi Kapolri pun, tidak usah repot memaksa masyarakat menggunakan istilah baru, karena akan menghabiskan energi dan biaya yang tidak sedikit.

Kisah tentang kelaziman ini adalah kabar baik buat siapa saja yang tidak termasuk yang terbaik, dan buat pengusaha yang produknya bukan yang terbaik. Terbukti, tidak semua orang menjadi hebat karena yang terbaik, tidak semua produk yang laris yang paling bermutu, tidak semua yang paling baik dan paling murah otomatis paling laku dan tidak semua orang sukses adalah yang paling pintar di sekolah.

Kita dapat menyebut hal ini dengan kata-kata, banyak hal yang tidak adil dalam kehidupan ini (biasanya yang berbicara demikian adalah mereka yang merasa sudah melakukan yang terhebat tapi kalah dibanding yang lain yang biasa saja). Namun dalam pandangan positif, bahwa kehidupan ini menjadi sesuatu yang menarik justru karena banyak hal yang sulit kita tebak. Hasil riset motivasi pun membuktikan bahwa seseorang akan termotivasi melakukan sesuatu secara optimal apabila hasil akhirnya punya kemungkinan sukses dan gagalnya masing-masing 50%. Jika kemungkinan berhasil hanya 1%, seorang akan malas melakukan tindakan mencapai target. Demikian sebaliknya, jika kemungkinan berhasilnya 100%, dia juga kurang termotivasi karena bekerja tanpa keringat pun dia pasti mampu mencapainya.

Pesan lain yang bisa kita ambil dari cerita ini adalah bahwa untuk hebat luar biasa ternyata tidak harus selalu menjadi sesuatu yang paling berbeda dan luar biasa sebagaimana sering kita dengar, namun  dapat juga dengan menjadi atau menciptakan sesuatu yang lazim, yang diterima banyak orang. Lazim itu sendiri adalah sesuatu yang biasa, sesuatu yang mudah dipakai orang, dan itu tidak berarti harus canggih.***

No comments:

Post a Comment