Saturday, April 23, 2011

Rumput Tetangga

 
Rumput tetangga tampak lebih hijau dibanding rumput di halaman sendiri. Itulah manusia, yang mungkin berbeda dengan sapi yang tetap lahap menikmati rumput yang dihidangkan untuknya, tanpa menoleh ke rumput milik sapi lain. Melihat rumput tetangga yang lebih hijau, pertanda kita belum cukup mensyukuri apa yang kita terima.

Dalam beberapa kasus, rumput tetangga yang lebih hijau kelihatan karena kita belum memahami situasi apa yang sebenarnya terjadi di ”halaman rumput ” tetangga tersebut.

Alkisah Rina, seorang mahasiswa berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya. ”Pak saya tidak bisa berkonsentrasi belajar sehingga semester ini nilai saya jelek”.

”Apakah ada masalah keluarga atau karena kesibukan lain?” tanya dosennya.

”Terus terang akhir-akhir ini konsentrasi saya terganggu karena melihat teman satu kost saya yang sudah punya pacar. Saya melihat teman kost saya lebih semangat, kemana-mana ditemani pacarnya. Sedangkan saya kemana-mana sendiri,” urainya terus terang.

Sang dosen memberinya beberapa petuah untuk menenangkan hati mahasiswi bimbingannya.

Seminggu kemudian Rika, yang juga mahasiswi bimbingannya datang kepadanya. ”Pak saya sulit belajar dengan tenang. Waktu saya habis bersama pacar saya. Tiap saya belajar yang terpikir pacar saya saja. Saya pikir-pikir lebih enak teman kost saya yang belum punya pacar. Dia kelihatannya lebih tenang dan punya banyak waktu untuk belajar”.

”Siapa teman kost kamu? ”tanyanya. ”Rina, Pak,” jawabnya singkat.

Begitulah kalau kita selalu merasa bahwa yang dimiliki orang lain lebih baik dari milik kita.

Kita dapat melihat rumput tetangga lebih hijau, pada saat yang sama pemilik halaman rumput tadi merasa terganggu oleh rumput tersebut.
Beginilah contohnya. Ada dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Desi, Desi,..!"

Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini.

Si dokter menjawab, "Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Desi." Si pengunjung manggut-mangggut, tetapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak , " Desi...Desi...! "

”Orang ini juga punya masalah dengan Desi ?" tanya pengunjung itu
keheranan. Dokter kemudian menjawab, "Ya, dialah yang menikah dengan Desi.... ".

Kadangkala kita merasa lingkungan kita tidak adil terhadap kita. Sering kita dengar keluhan, ”saya sudah bekerja lebih keras di perusahaan ini, kenapa pimpinan memberi ke saya hanya ini, sedangkan si A yang kerjanya cuma begitu, mendapat sesuatu lebih hebat”.

Berikut ini saya kutip kisah  dari sebuah situs internet tentang motivasi. Alkisah, ada seorang hartawan di suatu negeri meninggal dunia dan meninggalkan wasiat tentang pembagian harta untuk kedua orang putranya.

Sepanjang hidup, si hartawan mengumpulkan hartanya satu per satu dengan sangat teliti sehingga ia sangat mengenal semua harta miliknya. Oleh karena itu ia dapat membagi semua hartanya menjadi dua dengan nilai
kurang lebih sama. Akan tetapi karena jenis-jenis harta itu tidak persis
sama yang diterima oleh masing-masing anaknya maka keduanya dengan penuh iri menganggap bahwa anak yang lain mendapatkan warisan lebih banyak dibanding dirinya.

Sepeninggal ayahnya, kedua putra tersebut saling ribut dan bersikeras bahwa orang tuanya telah bertindak tidak adil karena anak yang lain mendapatkan harta warisan yang lebih banyak dari dirinya.

Karena keributan yang tak kunjung selesai dan bahkan makin memuncak,
orang-orang sekitar mengusulkan keduanya untuk membawa masalah mereka ke pengadilan.

Di pengadilan Sang Hakim yang dikenal sangat pandai dalam menangani kasus-kasus yang rumit, dengan sabar dan hati-hati mendengarkan keterangan dari kedua orang putra orang kaya tersebut secara bergantian.

Lantas, sang Hakim berkata, "Tuliskanlah semua harta kekayaan yang dikatakan oleh orang tuamu telah diwariskan untuk kalian masing-masing. Jangan sampai ada yang ketinggalan karena harta yang ternyata tidak tercantum dalam tulisan tersebut akan menjadi milik umum". Demikian teliti keduanya dalam menuliskan semuanya dalam daftar masing-masing.

Setelah selesai, hakim kemudian meminta keduanya untuk saling bertukar daftar dan memeriksa secara teliti daftar dari saudaranya. "Apakah kalian masih merasa bahwa warisan dari saudaramu lebih banyak dari yang kalian terima untuk diri masing-masing ?".

Tanpa ragu keduanya segera menjawab, "Iya Pak Hakim, orang tua saya memang tidak adil. Harta yang diwariskan kepada saudara saya jauh lebih banyak daripada yang kuperoleh. Kami meminta penyelesaian yang seadil-adilnya".

"Baiklah, karena kalian masing-masing menganggap bahwa daftar harta yang dimiliki oleh saudara kalian jauh lebih banyak dari daftar kalian sendiri maka silakan untuk saling menukarkan daftar masing-masing dan harta dalam daftar tersebut sekarang menjadi milik kalian".

Sungguh suatu penyelesaian yang sangat sederhana akan tetapi pandai dan adil. Sang Hakim mengecoh kedua putra yang tamak dengan keserakahan mereka sendiri.

Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau daripada rumput sendiri. Padahal setelah pindah ke rumah tetangga dan memiliki rumput tersebut, ternyata tidaklah sehijau rumput sendiri sebelumnya.

Kita kadang sulit berbahagia pada saat mendapatkan sesuatu lantaran kita ingin lebih dari yang baru saja kita dapatkan. Kita menjadi sulit bersyukur karena kita sendiri menetapkan syarat-syarat untuk bahagia yang terlalu berat. Padahal dalam posisi apapun kita saat ini, ada orang yang sedang menginginkan menjadi ”seperti kita”.

Kita sendirilah yang akhirnya menyulitkan gerakan kita untuk maju. Petuah yang sederhana, jika mau maju, bergeraklah maju, tak perlu terlalu sering menoleh kanan-kiri.***

No comments:

Post a Comment