Friday, September 6, 2013

JIKA JADI ENTREPRENEUR MASIH RAGU, JADILAH INTRAPRENEUR

Untuk menjadi negara yang maju dan punya daya saing kuat, sebuah negara harus memiliki mininal 2% penduduknya menjadi entrepreneur. Saat ini jumlah entrepreneur di Indonesia baru 0,8%. Demikianlah pandangan tokoh entrepreneur Ciputra yang sering dikutip oleh para pakar dan pelaku bisnis.

Namun beberapa kawan melihat gelagat yang berbeda. Saat ini hampir semua orang menjadi "entrepreneur" dengan berbagai skala usahanya. Mau usaha jualan pulsa, eh ketemu orang nawarin pulsa juga. Mau buka warung sembako, begitu lihat kanan kiri, hampir setiap belokan ada warung sembako. Mau bisnis kuliner, di sepanjang jalan banyak usaha kuliner, dan sebagian tidak dapat bertahan karena persaingan begitu ketat. Mau jualan baju di kantor, sudah banyak sekali yang melakukan. Mau menawarkan peluang bisnispun, yang ditawarin sudah menyiapkan peluang bisnis yang mirip bahkan persis sama. Mau bisnis ini itu, kelihatannya sudah dilakukan begitu banyak orang. Dalam pandangan ini, jumlah entrepreneur bukan 0,8% tapi 80%.

Nyali makin ciut pula melihat dan mendengar si A habis duit sekian puluh juta gara-gara nekat bukan warung. Si B "sukses" ditipu mitra kerjanya yang baru dikenal sekian bulan. Si C bisnisnya lancar tapi mendadak uangnya dibawa kabur karyawan.

Meskipun di media cetak dan elektronik banyak info profil orang sukses, tak mampu membujuk pikiran yang sudah termakan informasi yang dilihat sehari-hari berupa berjubelnya pelaku usaha, khususnya usaha skala mikro.

Ada pula orang yang ragu memulai usaha sampingan karena, takut bisnisnya tidak bisa jalan, takut uangnya habis, meskipun ia tahu memang seperti itulah resiko yang harus ditanggung.

Ada Cara Yang lebih Smart; Intrapreneur

Jika anda termasuk yang seperti disebutkan di atas, ada jalan yang bisa anda lakukan, yaitu menjadi intrapreneur. Hasil dari intrapreneur tak kalah keren dengan entrepeneur.

Sejatinya, intrapreneur kalau dilihat dari sisi mental, sama dengan entrepreneur. Bedanya, entrepreneur memulai usaha sendiri dan menjadi milik sendiri, sedangkan intrapreneur adalah seorang inovator di dalam perusahaan.

Seorang karyawan yang melihat peluang bisnis yang bisa dikembangan oleh perusahaan dimana dia bekerja, dapat membuat sebuah divisi baru yang mendatangkan sumber penghasilan baru bagi perusahaan dan bisa menjadi sumber kenaikan penghasilan bagi karyawan tersebut.

Bukan hanya itu, seorang sarjana baru, tidak usah melamar kerja, bikin saja proposal kegiatan di yayasan, organisasi massa, atau perusahaan dimana kegiatan itu mendatangkan profit bagi lembaga. Saya yakin banyak yang akan menerima gagasan anda. Syaratnya, anda mau merintis dengan gaji yang mungkin tidak besar. Nah, peluang yang anda peroleh adalah anda bisa memiliki "saham" di kegiatan baru tersebut. Hak ini bisa dinegosiasikan. Hebatya lagi, anda tidak menanggung resiko finansial jika bisnis yang anda rintis kurang berhasil. Paling ya, diketawain saja hehe.

Banyak orang sukses yang dimulai dengan menjadi intrapreneur. Biasanya diawali dengan melakukan presentasi gagasan. Awalnya gagasan ditertawakan atasan atau rekan sekerja, tapi kegigihan akan dapat meluluhkan orang yang mengejek. Ketika dicoba dan berhasil, barulah orang melihat siapa anda.

Anda mau contoh orang-orang yang hebat yang dimulai dari intrapreneur? Tak usah saya sebutkan, cari di google juga banyak.

No comments:

Post a Comment