Wednesday, May 28, 2014

DIMANAKAH ALAMAT SUKSES ?



 Semua orang memiliki alamat sukses sendiri-sendiri. 
Carilah itu dan bergegaslah ke sana.
(Bambang Suharno)

Mari kita pahami sukses sebagai sebuah perjalanan, sebagaimana yang disampaikan John C Maxwell. Manakala  kita meraih sukses tertentu, maka perjalanan berikutnya telah menanti agar kita mencapai titik sukses berikutnya. Ketika wisuda sarjana pimpinan perguruan tinggi menyampaikan hal senada.

“Wisuda bukanlah akhir sebuah perjalanan sukses, melainkan awal untuk memasuki kesuksesan baru. Universitas yang sesungguhnya bukanlah kampus melainkan ketika anda memasuki dunia bermasyarakat. Di sanalah anda menghadapi ujian yang sebenar-benarnya, ujian yang tidak diumumkan kapan waktunya dan seberapa berat soal-soalnya,” katanya.

Akhir adalah awal bagi sesuatu kegiatan lain. Maka ibarat sebuah perjalanan, ketika kita mengawali langkah baru, kita tengah melangkah menuju sebuah alamat yang dapat kita sebut sebagai “alamat sukses”.

Setiap orang memiliki alamat sukses sendiri-sendiri. Kita tidak perlu meniru-niru alamat sukses orang lain.  Misalkan anda dalam perjalanan menuju alamat sukses, tiba-tiba tertarik meniru sukses orang lain, saat itu anda sedang berbelok ke jalan berliku hingga anda menyadari bahwa jalan yang anda tempuh itu salah. Anda harus kembali ke jalan semula, jalan yang benar menuju alamat sukses milik anda.

Berikut kisah seorang yang menghabiskan waktu mencari alamat sukses. Alkisah, ada seorang kawan yang awalnya membuka usaha warung makan. Ketika usaha sudah mulai menghasilkan, ia melihat kawannya sukses jual beli sepeda motor. Melihat peluang yang bagus, ia mencoba ikut-ikutan buka usaha jual beli sepeda motor. Sementara usaha warung makan kurang terurus, toko sepeda motornya pun belum menghasilkan. Di tengah kesulitan yang mendera, datanglah seorang kawan yang sukses menjalankan bisnis Multi Level Marketing (MLM) produk luar negeri. Melihat penampilan kawan yang mentereng dengan mobil bagus, ia tertarik bergabung. Apalagi modalnya sangat terjangkau, hanya bayar iuran dan membeli sejumlah produk.

Selama beberapa bulan, ia harus mengikuti banyak kegiatan MLM  yang sering mengharuskan pulang tengah malam. Meskipun yang ditawarkan adalah “hidup bebas berpenghasilan banyak tanpa terikat waktu” faktanya ia merasakan betapa beratnya menghasilkan sesuap nasi. Ia merasa terjerat dengan kewajiban merekrut anggota dan melakukan presentasi siang malam. Akhirnya ia putuskan untuk menyerah.

Dan kembalilah ia ke dunia yang selama ini memberikan rejekinya, usaha kuliner, warung makan. Ia tersadar dari warung itulah ia bisa hidup dengan riang gembira, meski hasilnya tidak menyilaukan. Ia telah menemukan alamat suksesnya. Dan mulailah membuka mata bahwa usaha kulinernya punya peluang untuk berkembang menjadi usaha besar, jika dikelola dengan profesional.

Pesan yang penting dari cerita ini adalah, ketahuilah dimana alamat sukses Anda dan segeralah bergegas ke sana.

Dimanakah alamat sukses itu berada? Bagaimana cara memutuskan alamat sukses tersebut dan bagaimana cara menuju kesana? Arvan Pradiansyah mengatakan bahwa manusia itu memiliki peran berbeda-beda di dunia. Jika anda sudah menemukan jati diri anda untuk berperan seperti apa di dunia, maka anda akan mudah untuk menetapkan target sukses anda dalam kebahagiaan. Sedangkan Ipho Santoso membuat istilah sidik jari kemenangan untuk menggambarkan bahwa kita semua diciptakan berbeda dalam meraih kemenangan. Jika anda sudah memahami sidik jari kemenangan, maka terjadilah penghematan waktu dan energi untuk mencapai “alamat” sukses.

Pernahkah Anda melihat orang yang hidupnya sepertinya mampu meraih sukses seperti otomatis begitu saja? Ia seperti mengendarai mobil matic. Tanpa energi yang banyak, bisa mencapai tujuan dengan kondisi badan yang tidak lelah?

Jika anda amati lebih dalam, mereka pada umumnya sudah memahami sidik jari kemenangan dan sudah tahu, dimana alamat suksesnya. Mereka yang sukses dengan suka cita, adalah karena ketika mengerjakan pekerjaannya dengan suka cita. Tiada kata lelah baginya, yang ada adalah ia bekerja dan perlu istirahat agar badan lebih fit dan pekerjaannya lebih produktif.

Maka berbahagialah jika Anda sudah tahu alamat sukses Anda. Bergegaslah ke sana dengan riang gembira.***

Friday, May 23, 2014

JOKOWI DAN PRABOWO; SIAPAKAH PEMIMPIN LEVEL 5?

Saat ini, media masa Indonesia sedang begitu bergairah memberitakan 2 pasangan Capres-Cawapres untuk berlaga di Pilpres yang akan berlangsung 9 Juli 2014. Sebagian masyarakat sudah yakin akan pilihannya, sebagian lagi masih bimbang mau memilih Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta.

Memilih pemimpin bukan perkara mudah bagi sebagian orang. Ada sebagian memilih berdasarkan panutannya atau kelompoknya, ada juga yang benar-benar mencermati track recordnya.

Untuk anda yang masih belum menentukan piihan, mari kita simak,  seorang pakar bernama Jim Collins yang telah mencurahkan sebagian waktunya untuk mendalami perusahaan-perusahaan yang maju dan kepemimpinannya.

Jim dan tim risetnya meneliti 1.435 perusahaan di Amerika untuk dilihat rekam jejak 40 tahun perjalanan perusahaan. Dari perusahaan sebanyak itu, Jim  dan kawan-kawan menemukan 11 perusahaan yang dikategorikan sebagai perusahaan hebat. Sebagai contoh Walgreens, dulunya dikenal di AS sebagai perusahaan yang biasa-biasa saja. Pada tahun 1975, terjadi “keajaiban”.  Walgreens menanjak, menanjak dan terus menanjak. Saham Walgreens mengalahkan bintang teknologi Intel hampir dua kali, General Electrics dengan hampir lima kali, Coca-Cola dengan hampir delapan kali, dan pasar saham umum NASDAQ dengan hampir 15 kali.

Dari analisanya, Jim menyimpulkan ada enam elemen kunci yang menyebabkan perusahaan biasa-biasa saja kemudian dapat bertransformasi menjadi perusahaan hebat, salah satunya adalah faktor leadership (kepemimpinan). Jim menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan yang hebat memiliki kepemimpinan level 5, sebuah kategori kepemimpinan yang menurutnya sebagai kategori kepemimpinan terbaik.

Ya, dari analisa hasil risetnya ini Jim menyimpulkan adanya 5 level kepemimpinan yang kini menjadi referensi penting bagi siapapun yang ingin menjadi pemimpin hebat.
Menurut Jim, level pertama kepemimpinan adalah highly capable individual, yaitu kepemimpinan yang berupa  individu yang sangat produktif, terampil dan kerja bagus. Dalam kacamata saya, mereka adalah orang-orang yang cenderung memimpin diri sendiri. Orang ini kalau memimpin banyak orang cenderung pusing tujuh keliling karena melihat anak buahnya tidak seterampil dia. Orang ini sangat trampil bekerja, tapi belum tentu mampu memajukan sebuah institusi akibat cara-cara memimpinnya yang justru lebih menyibukkan diri sendiri dibanding memberdayakan orang lain.

Level kedua adalah contributing team member. Pemimpin yang masuk kategori ini adalah Individu-individu yang  bekerja efektif dalam satu group. Jelas, level ini lebih baik dari yang pertama, tapi belum cukup untuk membuat institusi  hebat. Ia hanya mampu bekerja dalam satu tim untuk suatu tugas.

Selanjutnya Level ketiga yaitu competent manager, sekelompok orang yang efektif meraih goal. Lumayanlah, kalau kita punya manajer seperti ini. Tata kelola kegiatan sudah mulai bagus, ada perencanaan, aksi dan evaluasi. Tapi yang inipun hanya mampu membuat sebuah institusi yang dia pimpin menjadi baik, bukan institusi super alias hebat.

Level keempat lebih bagus, yaitu effective leader, pemimpin yang komitmen pada tujuan sangat bagus, punya standar luar biasa. Keunggulan pemimpin ini adalah banyak orang berminat untuk menjadi pengikutnya. Mereka yang termasuk kategori effective leader mampu secara efektif merumuskan cita-cita besar perusahaan dan meyakinkan banyak orang untuk ikut berkontribusi. Sayangnya, menurut Jim, pemimpin semacam ini hanya efektif selama ia memimpin saja, setelah ia pensiun perusahaan terancam mengalami banyak kesulitan.

Nah level kelima inilah yang membuat sebuah lembaga yang biasa bisa berkembang menjadi luar biasa. Mereka disebut sebagai  good to great leader. Mereka adalah  pemimpin yang mampu membangun kejayaan, tapi dengan kombinasi kesederhaan, personal humility dan keinginan profesional yang sangat kuat. Ciri khas kepemimpinan level 5 adalah sederhana dan rendah hati. Mereka  adalah orang-orang yang tampil biasa-biasa saja. Tapi, punya kemampuan hebat dalam melakukan perubahan dari institusi  yang tadinya biasa-biasa saja menjadi institusi yang hebat.

Bedanya level 4 dengan level 5 adalah pada kemampuan regenerasi. Pemimpin level keempat, jika dia pensiun, institusi tempat ia mengabdi bisa goncang, sedangkan pemimpin level 5 sangat memperhatikan upaya agar institusi dapat berjalan lama dan terus berkembang meskipun dia sudah berhenti. Pemimpin kategori ini adalah seperti seorang panutan yang menginspirasi dan mampu membangun sistem kaderisasi yang mantap. Ia menjadi pemimpin yang rendah hati, tidak menampilkan diri sebagai pemimpin yang kuat dan ambisius, serta  tidak membuat  institusi yang dipimpin bergantung 100% pada dirinya.

Perusahaan yang masuk kategori good to great sangat fokus pada hasil, memiliki kapasitas eksekusi yang baik (good executor) dan cenderung low profile.

Sekarang, silakan Anda menilai, siapakah Capres yang masuk pemimpin kategori level 5?


Wednesday, May 7, 2014

DAYA UNGKIT KESUKSESAN



Berilah  saya tempat berpijak  dan pengungkit yang cukup panjang , maka akan saya pindahkan seluruh bumi (Archimedes , 278-212 SM)


Tahukah anda bahwa Campina adalah sebuah usaha berbadan hukum koperasi? Ya, Campina adalah salah satu koperasi terbesar di Eropa. Tahun 2009 lalu jumlah anggotanya lebih dari 7.700 orang. Penyebaran anggotanya meliputi 3 negara yaitu Belanda, Belgia dan Jerman.  Koperasi ini berdiri tahun 1979 dengan produk susu segar, yoghurt, mentega, keju, kue cream dan berbagai makanan berbagan dasar susu.

Volume usaha Campina tahun 2005 sebesar USD 4,2 miliar dan masuk Koperasi terbesar peringkat ke-53 menurut  ICA (International Cooperative Aliance). Di Indonesia, Campina terkenal dengan produk es krimnya.

Sementara itu di Jepang, ada koperasi Zen-Noh, yang merupakan koperasi terbesar di dunia. Data tahun 2009, koperasi ini beranggotakan 10 koperasi pertanian tingkat sekunder , 43 koperasi sekunder khusus, 66 koperasi berbagai jenis, 1010 koperasi primer serta 4,4 juta orang anggota perorangan.  Dengan Jumlah karyawan 12.500 orang lebih, Koperasi Zen-Noh menyediakan barang kebutuhan petani seperti alat dan mesin pertanian, bahan baku serta barang konsumsi yang dibutuhkan anggota. Volume usaha koperasi ini mencapai USD 63,4 miliar, dan masuk dalam peringkat pertama dari 300 koperasi terbaik dunia versi ICA.

Sayang sekali dari 300 koperasi terbaik dunia tersebut, tak ada satu pun koperasi Indonesia. Yang ada adalah koperasi negara tetangga yaitu Koperasi  Bank Kerjasama Rakyat (Malaysia) dan Koperasi jasa keuangan NTUC Income (Singapura).

Namun bukan berarti di Indonesia tidak ada koperasi sukses. Kita mengenal KPBS (Koperasi Peternakan Bandung Selatan), Koperasi SAE Pujon, Koperasi Batik dan sebagainya. Bahkan ada sebuah kegiatan arisan para ibu yang kini menjelma menjadi koperasi besar, yaitu Koperasi Setia Bhakti Wanita, Surabaya.  Bermula dari arisan yang hanya Rp. 2.000/anggota, kini omset mencapai lebih dari Rp 200 miliar /tahun dengan jumlah anggota lebih dari 10 ribu orang.

Kini masyarakat mulai paham bahwa  tidak berkembangnya koperasi  bukan karena lembaga koperasinya yang salah melainkan manajemennya yang perlu diperbaiki.

Yang  menakjubkan dari koperasi yang berkembang adalah banyak di antaranya yang dimulai dengan modal seadanya, hanya simpanan pokok dan simpanan wajib yang besarnya tidak seberapa. Setelah dikelola dengan menggali potensi dari anggotanya, koperasi berkembang dengan pesat.

Sebuah organisasi bisnis dapat berkembang pesat karena memiliki alat ungkit yang baik, demikian kata Mark Victor Hansen dan Robert G. Allen .  Kedua penulis buku sukses ini menyatakan, menggunakan pengungkit sama dengan meningkatkan kecepatan tumbuh. Kalau anda ingin menciptakan kesuksesan, anda perlu menggunakan pengungkit. Pengungkit sukses terdiri dari  3 bagian, yaitu pertama tujuan/impian para pendiri, kedua;  penopang pengungkit yaitu manajemen dan ketiga adalah pengungkitnya itu sendiri.  Agar impian besar itu dapat dicapai, maka alat ungkit harus panjang. Daya ungkit semakin baik, jika alat ungkitnya semakin panjang.

Daya ungkit apa saja yang diperlukan? Pertama, pembimbing . Organisasi-organisasi yang sukses, termasuk koperasi memiliki pembimbing yang baik, yang berpengalaman dan yang bisa melihat banyak hal yang perlu diperbaiki. Kedua adalah tim yang baik. Jika anda bekerja sendiri bisa menghasilkan 1 miliar, maka bekerja dalam 5 orang, harusnya mendapat lebih dari 5 miliar. Itulah tim.  Ketiga adalah jaringan (network).  Nilai sebuah jaringan adalah kuadrat dari jumlah orangnya. Jika koperasi beranggotakan 100 orang , maka masing-masing punya relasi 100 orang lagi sehingga nilai jaringannya adalah 10.000 orang.

Keempat adalah jaringan tak terhingga, yaitu hubungan jiwa atau rohani yang menghubungkan sesama anggota. Semangat kebersamaan adalah jaringan yang nilainya tak terhingga.

Kelima adalah peralatan dan ketrampilan. Ketika organisasi makin besar, manajemen perlu memanfaatkan teknologi yang tepat. Jika tidak, mereka akan mudah tenggelam dalam hiruk pikuk persaingan bisnis.***

 Bambang Suharno, Majalah Infovet April 2014