Thursday, November 17, 2016

Antara Rambo dan Jenderal Soedirman

Tahun 1980-an, film Rambo yang dibintangi oleh Sylvester Stalone sangat terkenal dan laris manis di berbagai negara. Karena laris, film ini dibuat sekuel, Rambo 1,2 ,3, kalau nggak salah sampai 4. Tokoh ini digambarkan sebagai veteran perang Vietnam yang kecewa dengan negerinya sendiri yang tidak menghargai para prajurit yang telah menyabung nyawa di belantara perang Vietnam yang kejam. Di perang ini, AS boleh dibilang dipermalukan oleh musuh bebuyutannya saat itu yakni Uni Soviet.


Pintarnya para sineas AS, meski kalah di dunia nyata, mereka bisa membuat image kehebatan tentara AS di medan laga. Itulah Rambo, yang digambarkan sebagai prajurit cerdik, berbadan kekar, mampu melawan musuh dengan segala taktiknya.

Logikanya orang-orang di medan perang adalah yang fisiknya sangat hebat, berbadan kekar, memanggul senjata, mampu menembus belantara. Namun itu tidak berlaku untuk seorang rokoh bernama Soedirman. Ia adalah seorang panglima perang yang memimpin perang gerilya dalam kondisi sakit paru-paru.

Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga Jawa Tengah (30 km dari Purwokerto), 24 Januari 1916, memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Ia kemudian melanjut Ke HIK ( sekolah guru) Muhamadiyah, di Solo , tidak sampai tamat. Wafat pada 29 Januari 1950 (usia 34 tahun) setelah menjalankan misi perang gerilya dan dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela kemerdekaan.  Ia menjadi Panglima dan Jenderal termuda dalam sejarah Republik Indonesia. 

Soedirman satu-satunya penglima TNI yang dipilih melalui proses demokrasi, berupa pemungutan suara sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat/Angkatan Perang Republik Indonesia (TKR/APRI) pada 12 November 1945. Usianya saat itu baru 29  tahun.  Dia menyisihkan calon-calon lain, termasuk Oerip Soemohardjo, kandidat yang mengenyam pendidikan militer Belanda.

Patung Soedirman di Jepang
Karena kehebatannya itu Soedirman menjadi Jenderal bintang 5 alias Jenderal Besar. Kehebatannya pula yang membuat ia dikenang sebagai nama jalan utama di hampir setiap kota di Indonesia. Juga sebagai nama universitas di daerah kelahirannya, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di Purwokerto.

Saking hebatnya, patung Soedirman juga dipajang di depan Kementerian Pertahanan Jepang di Tokyo. Dia adalah satu-satunya tokoh yang bukan warga negara Jepang yang patungnya dipasang di tempat yang sangat strategis. Kita tentu bangga sebagai warga negara Indonesia.

Kehebatan Soedirman  yang dikenal di dunia militer adalah mampu memimpin perang gerilya selama 7 bulan dari hutan ke hutan dalam keadaan fisik yang jauh dari fisik Rambo. Sungguh mengagumkan, kepemimpinannya mampu membuat dunia internasional mengakui, bahwa negara baru yang bernama Indonesia itu nyata-nyata ada dan layak diakui. (catatan: saat itu Indonesia belum diakui sebagai negara berdaulat).

Di kala sebagian tokoh tertekan karena Belanda kembali menyerang Indonesia dengan segenap kekuatan fisik dan lobby-nya, Soedirman menegaskan bahwa merdeka itu harus 100%. Tidak mau setengah-setengah, apalagi menjadi negara boneka. Semboyannya “maju terus pantang mundur”, membuat seluruh rakyat bergelora, rela berkorban demi mempertankan kemerdekaan

Kajian dan diskusi tentang leadership sering mempertanyakan, kenapa seorang pemimpin mampu memberi pengaruh luar biasa kepada jutaan orang hanya dengan berbicara beberapa kata ? Soedirman misalnya, ia tidak banyak berbicara, tidak juga menulis buku tentang pemikirannya. Namun ketika di medan perang gerilnya menyampaikan  kata-kata “maju terus pantang mundur”, para prajurit dan masyarakat rela mendukungnya dalam bentuk bantuan fisik, makanan, informasi maupun yang lainnya.

Soedirman bertindak efektif saat langsung berkarya di medan laga. Pun ia sejatinya tidak berperang dalam arti mengangkat senjata. Secara fisik ia seakan merepotkan anak buahnya yang harus menggotong tandu agar Sang jenderal bisa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya yang semuanya melewati jalan sulit berbukit-bukit.

Mengapa Soedirman bisa punya pengaruh demikian hebat dalam keadaan fisiknya yang sakit? Ini bisa dikaitkan dengan 3 peran utama pemimpin sebagaimana disebutkan Soehadji (Dirjen Peternakan 1988-1996). Ia mengungkapkan, peran utama pemimpin adalah mengubah tantangan menjadi peluang, mengubah kelemahan menjadi kekuatan, dan dapat memberikan kejelasan pada saat orang lain bertanya tentang apa yang terjadi.

Ketika Indonesia yang baru merdeka ditantang oleh serbuan tentara Belanda, Soedirman menerima tantangan itu sebagai peluang untuk membuktikan keberadaan negara republik yang baru berdiri. Namun situasi Indonesia sebagai negara baru merdeka tidak memiliki kekuatan angkatan perang. Kelemahan itu bisa dijadikan kekuatan dengan melakukan perang gerilya, strategi perang bersama rakyat yang sulit dilawan dengan kekuatan senjata.

Bahkan kelemahan fisik Soedirman menjadi kekuatan pembakar semangat. Seorang jenderal memimpin perang dengan ditandu, membuat semangat prajurit bangkit, dan rakyat siap membantunya dengan berbagai cara. Mereka, para prajurit yang “sehat” merasa terpanggil ikut berjuang melihat pemimpinnya yang dalam kondisi sakit rela memimpin perang secara gerilya.

Pada saat yang sama, sebagian masyarakat sebenarnya sedang bingung, apakah para pemimpin negara akan menerima tawaran sebagai negara serikat atau bagaimana. Sebagian rakyat merasakan, setelah merdeka kenapa  hidup tambah susah.


Dalam keadaan serba bingung, Soedirman menegaskan arah perjuangan, yakni merdeka itu harus 100%. Kejelasan arah, dan ketegasan dalam bersikap, membuat Soedirman menjadi pemimpin yang mampu menggelorakan semangat mempertahankan kemerdekaan.  Soedirman hebat bukan karena fisiknya kuat sebagaimana Rambo, namun karena kekuatan leadership-nya.***

No comments:

Post a Comment