CATATAN BAMBANG SUHARNO TENTANG MUTIARA KEHIDUPAN, BISNIS, KEPEMIMPINAN

Ilmu Cicak di Dinding

Laksana Cicak, itulah yang kita mesti lakukan dalam meraih rejeki. jika datang "seekor nyamuk peluang sukses" langsung saja ditangkap "hap". Ingatlah lagu cicak di dinding.

Mutiara Kehidupan

Jika merantau ke kota besar, janganlah hanya sekedar numpang tua. Gigihlah berprestasi. Jangan Pulang Sebelum Menang

Melampaui Efektivitas

Jika kita ingin merubah nasib, maka perlu dimulai dengan merubah kebiasaan, karena kebiasaan adalah modal keberhasilan.

Tambang Berlian di Lahan Kita

Jangan mudah tergiur dengan dunia luar yang tampak menjanjikan berlian, karena sangat mungkin berlian yang Anda cari tersembunyi di lahan kehidupan Anda.

Menikmati Bungkus Permen

Jika kita membeli permen, kita sebenarnya hanya membutuhkan isi permen, namun kita harus menerima juga bungkus permen yang nggak enak kalau dimakan. Begitupun dalam kehidupan, kita ingin kesuksesan, namun harus menerima bungkusnya juga yang mungkin terasa getir

Thursday, March 20, 2014

APAKAH MENYUSUN ARTIKEL OPINI DAN ILMIAH POPULER MEMBUTUHKAN "ANGLE"?

Sebagaimana sharing saya beberapa waktu lalu, kualitas sebuah berita sangat ditentukan oleh "angle" yang dipilih oleh wartawan. Coba kita perhatikan, jika puluhan wartawan mengikuti konferensi perss, bahan yang diterima untuk menulis begitu banyak. Wartawan bertugas memilih bagian mana layak dipilih sebagai angle berita.

Misalnya di akhir tahun Menteri Pertanian mengadakan konferensi pers untuk menyajikan kinerja selama setahun. Yang muncul di berita media umum, mungkin saja yang ditonjolkan adalah soal impor daging sapi yang melibatkan petinggi PKS. Berita tentang hortikultura, jagung dan padi tidak mendapat sorotan. Angle itu dipilih karena saat itu yang paling menarik untuk disajikan adalah soal daging sapi.

Bagaimana dengan artikel ilmiah populer? Apakah perlu menetapkan angle atau berpatokan pada gaya penulisan ilmiah yang dimulai dengan latar belakang, tujuan, pembahasan dan penutup? Kalau kita lihat ulasan pakar di media masa dalam bentuk ilmiah populer, kita akan melihat bahwa karya ilmiah populer membutuhkan angle yang tajam juga.

Jika anda ingin mengulas tentang bagaimana berbandingan sistem produksi peternakan di Australia dan Indonesia, maka akan menjadi menarik jika diawali dengan cerita singkat tentang kisruh impor daging. Dari situ anda bisa memulai dengan perbandingan sistem budidaya dan juga kebijakan pemerintah dalam mengembagan peternakan sapi. Jika anda langsung pada pendahuluan yang tidak menyinggung kisruh impor daging, pembahasan menjadi kurang menarik.

Begitupun jika anda akan menulis bagaimana sistem penerbangan pesawat yang aman. Lebih menarik jika diawali dengan kasus hilangnya pesawat Malaysia, umpamanya.
Dengan demikian, menulis artikel ilmiah populer tetap perlu memenuhi syarat sebagaimana layaknya berita. Jika anda ingin menulis mengenai Pemilu, saatnyalah sekarang, jangan menunggu orang lain bicara topik yang lain.

Begitulah kira-kira sharing saya mengenai Rahasia Penulis Pemula (RPP). Semoga bermanfaat.
Salam sukses

Share:

Sunday, March 16, 2014

TENTANG CAPRES JOKOWI; KEPUTUSAN BESAR SELALU ADA PRO KONTRA

Setiap keputusan besar mengundang reaksi pro kontra. Jika anda pemimpin (di level manapun), pasti paham dan merasakan betul pernyataan ini. Pemimpin adalah pengambil keputusan. Pekerjaan pemimpin adalah mengambil keputusan. Jika anda ketua RT, anda perlu mendengar saran warga, saran Lurah, saran ketua RW. lalu ambil keputusan. Setelah itu tunggulah orang yang akan mencemooh anda. Begitulah pemimpin .

Jika anda stress gara-gara dicemooh masyarakat, anda belum siap jadi pemimpin. Hidup ini tinggal pilih, mau bagian yang jadi tukang kritik atau sebagai pelaku sejarah, dengan resiko dikritik tanpa henti .

Satu contoh adalah tentang pencapresan Jokowi. Sebelum Megawati mengeluarkan pernyataan bahwa Jokowi jadi Capres, banyak orang yang berkata "kalau Mega mencalonkan diri, itu namanya tidak tahu diri. Faktanya Jokowi lebih hebat dari Mega".

Setelah mega mengambil keputusan untuk tidak mencapreskan diri dan menunjuk Jokowi sebagai capres, orang yang sama mengatakan," lho jadi Jokowi tidak bertanggungjawab dong, masak DKI baru mulai dibangun langsung ditinggal?"""

Itulah resiko pengambil  keputusan. Kita harus mengambil keputusan. Harus cepat menganalisa dan tajam intusinya.
Soal resiko, mau ambil keputusan  besar, keputusan kecil, semuanya mengandung resiko.
salam hormat
Share: