Wednesday, May 11, 2011

Pelajaran dari Coca-Cola; Botolkan Saja



Tahun 2003 lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke kota Atlanta, Negara Bagian Georgia, Amerika Serikat, untuk mengikuti seminar dan melihat sebuah pameran bisnis perunggasan terbesar di dunia, International Poultry Expo (IPE). Lokasi pameran sangat strategis, yakni di Georgia World Conggres Center (GWCC). Tidak jauh dari sana, ada kantor pusat studio televisi CNN dan kantor pusat perusahaan  minuman ringan terbesar di dunia, Coca-cola. 

Sayang sekali, karena padatnya acara di pameran dan seminar saya tidak sempat melihat lebih jauh kantor pusat Coca-cola yang sebenarnya sangat menarik perhatian saya. Sebelumnya saya sudah mencari informasi perihal minuman botol yang paling merajai dunia itu. Saya ingat, sebuah survey yang menyatakan ada satu merek yang paling dikenal seluruh penduduk bumi ini adalah Coca-cola. Dari New York hingga pedalaman Afrika hampir semuanya mengenal merek tadi.

Coca-Cola didirikan oleh Candler yang semula adalah pemilik sebuah toko kimia yang tidak begitu terkenal. Pada awalnya minuman Coca-cola dijual dalam sebuah kedai minuman, semacam warkop di negeri kita. Para penggemar Coca-cola dimanapun, bila ingin menikmati minuman Coca-cola harus datang ke kedai, cukup dengan mengeluarkan kocek 5 sen dolar. Ramuannya adalah coke dicampur soda, yang membuat tubuh terasa segar.

Coca-cola berhasil merebut hati konsumen di wilayah Atlanta. Hampir setiap toko kimia di kota itu memiliki kedai soda yang menjual minuman Coca-cola. Lantas pada tahun 1888, Candler mendapatkan hak paten atas karyanya tersebut.

Perjalanan sukses Candler tidak berhenti sampai di sini. Dikisahkan, pada suatu hari seorang kawan Candler datang ke kantornya dan menawarkan sebuah rahasia penting yang bisa membuat Coca-cola menyebar ke seantero dunia. Untuk mengungkap rahasia tersebut, teman Candler meminta bayaran yang tidak kecil untuk ukuran dia.

Setelah berdiskusi cukup alot, akhirnya Candler bersedia menandatangi cek pembayaran atas informasi dari sang kawan tadi. Dengan gembira, sang kawan menerima cek tersebut. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Candler membisikkan dua kata yang di kemudian hari merubah perusahaan coca cola yang semula perusahaan lokal menjadi perusahaan yang mendunia.

Dua kata tersebut adalah ”Botolkan saja!”.  

”Ya, botolkan saja. Hanya itu!” kata kawannya. Candler terkesima. Kepalang sudah mengeluarkan uang yang banyak,  Candler menuruti apa yang disarankan kawannya tadi. Selanjutnya anda tahu sendiri bagaimana suksesnya minuman ini di berbagai belahan bumi.

Sebelum coca-cola dijual botolan, orang yang mau menikmati Coca-cola harus berkunjung ke kedai.  Sama seperti kita berkunjung ke warung makan, minta kopi atau teh manis hangat. Kita nunggu dan datanglah pesanan kita.

Dengan sistem penjualan melalui warung atau kedai, pertumbuhan bisnis Coca-cola hanya berkembang di wilayah kota Atlanta dan sekitarnya saja.  Untuk merambah ke kota lain, dibutuhkan survey lokasi, survey konsumen, modal untuk sewa tempat dan sebagainya. Setelah minuman ini disajikan dalam botol, konsumen dimanapun di dunia bisa menikmati coca cola, tanpa harus datang ke kantin atau warung makan. Ambil botol, langsung nikmati.

Proses ini kata Burke Hedges dalam buku Copycat Marketing disebut sebagai efisiensi yang sebenar-benarnya. Padanan dari kata efisiensi adalah leverage yang berasal dari Bahasa Perancis yang artinya menjadikan lebih ringan. Perubahan penjualan coca cola dari bentuk kedai menjadi bentuk botol adalah sebuah efisiensi. Pengembangan coca cola menjadi jauh lebih ringan dengan model pembotolan, dibanding dengan membangun kedai di berbagai penjuru.

Teknologi telah begitu banyak membuat banyak hal lebih efisien. Contoh yang paling sederhana dan telah diajarkan siswa Sekolah Dasar adalah alat ungkit. Bila kita akan mengganti ban mobil, berapakah waktu dan orang yang bisa mengangkat mobil dan mengganti ban? Tiga orang? Mungkin lebih. Dengan alat ungkit alias dongkrak, cukup satu orang bisa mengganti ban mobil.

Efisiensi bukan saja karena semata-mata teknologi seperti alat ungkit, dapat pula dalam bentuk gagasan radikal untuk merubah pola kerja, seperti halnya yang terjadi di Coca-cola.

Alkisah, di sebuah gedung perkantoran, banyak keluhan terhadap lamanya waktu menunggu lift. Manajemen gedung berusaha menambah lift baru, tapi komplain tentang hal itu tetap bermunculan. Kemudian muncullah satu ide yang mudah dan sangat murah untuk dilaksanakan, yaitu memasang cermin di lift. Setelah ada cermin di pintu lift, pengunjung maupun karyawan di gedung tersebut tidak merasa menunggu terlalu lama antrian lift, karena asyik bercermin. Ini benar-benar cara menangani komplain yang sangat efisien.

Dalam hal pengalaman coca-cola tadi, proses merubah sajian coca-cola dari bentuk konvensional menjadi bentuk botol tidaklah sesederhana cerita tadi. Di balik kisah sukses itu pasti ada tantangan, bagaimana merubah pola manajemen dari sistem penjualan eceran menjadi penjualan masal dan dari manajemen warung menjadi manajemen korporasi.

Itu sebabnya gagasan merubah sesuatu perlu dibarengi dengan sistem yang mendukung. Setiap perubahan membutuhkan mental untuk siap berubah ke arah yang lebih baik. Bagi saya, Candler bukan hanya berhasil ”membotolkan saja”, melainkan sukses untuk membuat semua karyawan Coca-cola untuk bersama-sama berubah dalam mengelola perusahaan.

“Botolkan saja” adalah awal dari sebuah perubahan, selanjutnya perubahan terus terjadi di segala lini perusahaan. Hal senada sering terjadi di perusahaan ketika ada keputusan baru, pemimpin baru, pabrik baru dan hal-hal baru lain yang menuntut perubahan di semua bagian. 
(dari buku: Jangan Pulang Sebelum Menang. www.bambang-suharno.blogspot.com)











Sudahkah anda mengalaminya?

No comments:

Post a Comment