Thursday, April 28, 2011

KEKAYAAN BERNAMA KESALAHAN


Saat artikel ini disusun, Ujian Nasional tengah berlangsung, para pelajar sedang melakukan upaya amat sangat serius untuk menghindari kesalahan dalam menjawab soal ujian. Sekalipun demikian sangat jarang seorang siswa dapat memperoleh angka 100 alias betul 100%. Penyebabnya bisa karena memang tidak tahu sama sekali jawabannya. Bisa juga sudah pernah tahu tapi lupa. Kadang juga  menemukan soal yang baru tadi pagi dipelajari dan ketika menemukan soal serupa di ujian, langsung lupa. Dan ada pula yang merasa bisa, tapi ternyata salah ngisi. Begitulah ujian nasional. Begitu pulalah ujian dalam internasional alias ujian kehidupan dunia.

Kesalahan dalam konteks kehidupan adalah milik semua orang. Kita hidup untuk belajar dari kesalahan dan agar sesedikit mungkin melakukan kesalahan.

Dalam buku Becoming A Star, Mario Teguh menyatakan, kita membutuhkan kesalahan untuk mencapai kualitas hasil yang lebih tinggi. Terimalah kemungkinan akan adanya kesulitan, masalah dan kesalahan. Karena jika anda bersungguh sungguh bekerja keras, sebetulnya juga sedang bersungguh-sungguh menyediakan kesempatan bagi timbulnya kesalahan.

"Bagaimanapun kesalahan kita butuhkan untuk mencapai hasil yang lebih baik, karena timbulnya kesalahan adalah tanda diperlukannya cara-cara yang lebih baik," kata Mario "Super" Teguh.

Membuat kesalahan, dan bahkan gagal dalam melakukan sesuatu yang berguna, adalah lebih baik daripada tidak pernah salah karena tidak melakukan apapun. Banyak orang terpelajar sangat teliti dan hati-hati memulai sesuatu, mereka melakukan perencanaan matang, melakukan analisa dan review berulang-ulang, tapi tak juga berani memulai karena takut salah. Padahal seandainya segera memulai, mungkin lebih banyak pelajaran yang diperoleh, baik itu berhasil maupun gagal.

Masih menurut Mario teguh, kesalahan dan kegagalan yang tidak kita hadapi dengan sungguh-sungguh, akan timbul lagi pada tempat dan kesempatan lain, bahkan dalam skala yang lebih besar. Mario mengatakan kesalahan mempunyai bakat mengajak “kakaknya” (skala yang lebih besar) dalam kesempatan berikutnya bila kita sengaja menghindarinya. Dalam bahasa sederhana, jika kita “lari dari kenyataan”, maka makin buruklah kenyataan yang harus kita hadapi.

Kesalahan dalam konteks kepemimpinan, apabila ada seorang pemimpin yang kemarahannya adalah tentang hal-hal yang sama selama bertahun-tahun, maka ia adalah orang yang sedang memimpin organisasi yang sedang dalam perjalanan turun, artinya dia beserta timnya tidak belajar dari kesalahan.

Karena kesalahan selalu memberikan pelajaran untuk mencapai cara cara yang lebih baik, maka tidak penting apakah itu kesalahan kita atau kesalahan orang lain. Jadi bila kita jeli belajar dari kesalahan orang lain maka kita dapat lebih menghemat waktu .

Kita membutuhkan kunci pembuka pintu kesungguhan untuk menghadapkan wajah ini ke wajah kesalahan kita, untuk berdiri gagah di atas kesedihan dan ketakutan, dan mulai melakukan sesuatu yang akan mengeluarkan kita dari masalah, menuju keadaan yang lebih baik.

Bila anda melakukan kesalahan, anda memang tidak mencapai keberhasilan hebat, namun tak usah khawatir,  masih ada keberhasilan baik, keberhasilan lumayan, keberhasilan cukup, lalu...hampir berhasil, baru kemudian "...nggak apa-apa kok!", anda dimaafkan, yang penting belajarlah dari kesalahan agar lebih baik di kemudian hari.

Kesalahan adalah milik kita. Seorang anak kecil yang baru berlatih berjalan, tidak pernah putus asa untuk terus berlatih sampai ia bisa berjalan normal. Ia jatuh berkali-kali dan selalu bangkit, mencoba dan mencoba lagi. Ia berkali-kali salah melangkahkan kakinya, dan nalurinya mengatakan bahwa ia bisa memperbaikinya.

Kesalahan, sungguh sesuatu yang unik. Ia adalah salah satu kekayaan kita. Kita bisa dibuat marah olehnya, juga bisa sukses karenanya.***

Salam  Keberuntungan 
www.bambang-suharno.blogspot.com

No comments:

Post a Comment