Rabu, 16 November 2016

Antara Rambo dan Jenderal Soedirman

Tahun 1980an, film Rambo yang dibintangi oleh Sylvester Stalone sangat terkenal dan laris manis. Karena laris, film ini dibuat sekual, Rambo 1,2 ,3, kalau nggak salah sampai 4. Tokoh ini digambarkan sebagai veteran perang Vietnam yang kecewa dengan negerinya sendiri yang tidak menghargai para prajurit yang telah menyabung nyawa di belantara perang Vietnam yang kejam. Di perang ini, AS boleh dibilang dipermalukan oleh musuh bebuyutannya saat itu yakni Uni Soviet.
Pintarnya para sineas AS, meski kalah di dunia nyata, mereka bisa membuat image kehebatan tentara AS di medan laga. Itulah Rambo, yang digambarkan sebagai prajurit cerdik, berbadan kekar, mampu melawan musuh dengan segala kehebatannya.
Orang-orang di medan perang semestinya memang orang yang fisiknya sangat hebat. Namun itu tidak berlaku dengan Jenderal Soedirman. Ia adalah seorang panglima perang yang memimpin perang gerilya dalam kondisi sakit-sakitan. Karena kehebatannya itu Soedirman menjadi Jenderal bintang 5 alias Jenderal Besar. Jabatan jenderal diperoleh saat usai 30 tahun. Kehebatannya pula yang membuat ia dikenang sebagai nama jalan utama di hampir setiap kota. Juga sebagai nama universitas di Purwokerto, Universitas Jenderal Soedirman (dimana saya adalah salah satu alumninya hehe).

Soedirman mampu memimpin perang gerilya selama 7 bulan dari hutan ke hutan dalam keadaan fisik yang jauh dari fisik Rambo. Namun sungguh mengagumkan, kepemimpinannya mampu membuat dunia internasional terheran-heran dan mengakui, bahwa negara yang bernama Indonesia itu nyata-nyata ada dan layak diakui. (catatan: saat itu Indonesia belum diakui sebagai negara berdaulat).

Saking hebatnya, patung Soedirman juga dipajang di depan Kementerian Pertahanan Jepang di Tokyo. Dia adalah satu-satunya tokoh non Jepang yang patungnya dipasang di tempat yang sangat strategis. Kita tentu bangga sebagai warga negara Indonesia.

Soedirman adalah satu-satunya panglima perang gerilya yang harus ditandu berbulan-bulan untuk melawan musuh yang secara perhitungan di atas kertas sangat kuat. Jujur, ketika saya menulis ini, saya merinding.

Memimpin perang gerilya membutuhkan stamina yang luar biasa, serta mental dan strategi yang hebat. Kesederhaannya sebagai seorang jenderal, keihlasannya berjuang untuk membela negeri, menjadikan aura semangat pantang mundur menular ke segenap penjuru negeri.

Di kala sebagian tokoh tertekan karena Belanda kembali menyerang Indonesia dengan segenap kekutan fisik dan lobbynya, Soedirman menegaskan bahwa merdeka itu harus 100%. Tidak mau setengah-setengah, apalagi menjadi negara boneka. Semboyannya Maju terus pantang mundur, membuat seluruh rakyat bergelora, rela berkorban demi mempertankan kemerdekaan

Riwayat Soedirman

Soedirman di lahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 januari 1916, memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. kemudian ia melanjut Ke HIK ( sekolah guru) Muhamadiyah, di Solo tapi tidak sampai tamat. Pada tanggal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang karena penyakit tuberkulosis dan dimakamkan di taman makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia Dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela kemerdekaan. Sudirman, begitu muda ketika ia meninggal. Umur 34 tahun. Namun, dalam usia yang muda namanya begitu harum dan terkenal. Ia menjadi Panglima dan Jenderal termuda dalam sejarah Republik Indonesia. 

Mengapa dalam usia yang muda, pendidikan yang rendah dan badan yang lemah karena penyakit tuberkulosis  parah yang dideritanya, ia  memiliki pengaruh yang besar terhadap perjuangan nasional? Itu adalah karena Soedirman adalah seorang pemimpin yang hebat. Sebagai pemimpin ia berbeda dengan Rambo, yang gagah perkasa, dengan senjata besar ditangannya. Rambo menembak, meloncat, menyikat musuhnya dengan kekuatan fisiknya. Soedirman dengan sikap pantang menyerah, keikhlasan membela negara dan kekuatan strateginya.

Kelemahan fisik tidaklah menjadi penghalang perjuangannya. Sebagai pemimpin ia adalah Pribadi yang teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. 

Entri Populer