CATATAN BAMBANG SUHARNO TENTANG MUTIARA KEHIDUPAN, BISNIS, KEPEMIMPINAN

Ilmu Cicak di Dinding

Laksana Cicak, itulah yang kita mesti lakukan dalam meraih rejeki. jika datang "seekor nyamuk peluang sukses" langsung saja ditangkap "hap". Ingatlah lagu cicak di dinding.

Mutiara Kehidupan

Jika merantau ke kota besar, janganlah hanya sekedar numpang tua. Gigihlah berprestasi. Jangan Pulang Sebelum Menang

Melampaui Efektivitas

Jika kita ingin merubah nasib, maka perlu dimulai dengan merubah kebiasaan, karena kebiasaan adalah modal keberhasilan.

Tambang Berlian di Lahan Kita

Jangan mudah tergiur dengan dunia luar yang tampak menjanjikan berlian, karena sangat mungkin berlian yang Anda cari tersembunyi di lahan kehidupan Anda.

Menikmati Bungkus Permen

Jika kita membeli permen, kita sebenarnya hanya membutuhkan isi permen, namun kita harus menerima juga bungkus permen yang nggak enak kalau dimakan. Begitupun dalam kehidupan, kita ingin kesuksesan, namun harus menerima bungkusnya juga yang mungkin terasa getir

Saturday, May 11, 2019

Mekanisme Sukses Otomatis

Setiap makhluk memiliki semacam _servomechanism_ di dalam dirinya.

Ikan Salmon setelah berumur 5 tahunan kembali ke tempat dilahirkan meskipun tidak pernah diberi contoh oleh induknya.

Seekor tupai di Eropa yang lahir di musim semi, menjelang musim dingin sudah otomatis mengumpulkan biji bijian meskipun belum pernah mengalami musim dingin.

Manusia juga memiliki "perangkat" yang sama dengan makhluk apapun di dunia.

Tetapi lebih canggih dan kompleks karena tujuan hidup manusia bukan hanya makan minum dan berkembang biak saja.

Ada tujuan lain yang dari waktu ke waktu berbeda.

Tujuan ini harus diinstall dulu ke pikiran bawah sadarnya.

Selama ini yang sudah diinstallkan oleh lingkungan kita adalah:
*bekerja keras mencari nafkah.*  Setiap ditanya
"kalau besar menjadi apa ?" Maka jawaban yang diharapkan adalah nama nama pekerjaan seperti menjadi dokter, pilot, presiden dsb.

Untuk mencapai tujuan itu, maka kita dibuat untuk *selalu tidak punya uang supaya mau bekerja keras*.

Ada 2 cara yaitu uang dibuat sulit masuk dan mudah keluar.

*Akibatnya, ada yang sudah bekerja keras bertahun tahun penghasilannya begitu begitu saja. Ada juga yg sudah berpenghasilan besar bertahun tahun tabungannya segitu gitu saja.*

Dapat uang sedikit saja sudah  muncul dorongan tak tertahankan untuk mempercantik rumah, nambah kendaraan dsb.

Jika tidak begitu, bisa saja tiba tiba anak sakit, orang tua sakit, ditipu orang dsb.

Pokoknya uang Anda harus habis !!

*Grup wa Building  The Dream (BTD)* bertujuan untuk MEMBERI TUJUAN BARU, yaitu

*berpenghasilan pasif besar dan hidup nyaman dengan penghasilan pasif besar.*

Dengan metode ilmiah mendengarkan *2 Audio Terapi Bawah Sadar 21x*.

Jika program baru di bawah sadar kita sudah terbentuk, maka Mekanisme Sukses Otomatis di dalam diri kita akan segera mengejarnya.

Kita tinggal membuka hati dan pikiran saja. Kita akan diketemukan dengan orang yang tepat disaat yang tepat. Tiba tiba saja kita bisa mencapainya.

Dalam bahasa sehari hari kita sering mengatakan bahwa Tuhan tidak memberi apa yg kita inginkan, tetapi memberi apa yang kita butuhkan.

Yang kita butuhkan itu sebenarnya adalah segala sesuatu yang ada *di pikiran bawah sadar kita*.

Sesederhana itu 🙏🙏
Share:

Sunday, May 05, 2019

Catatan Perjalanan ke Shenzhen : Tentang Seekor Anjing Yang Disiplin di Kota Teknologi

Rabu, 1 Mei 2019, akhirnya sampai juga saya di kota Shenzhen, China setelah menempuh perjalanan 5 jam menggunakan pesawat China Shouthern Airlines. Seharusnya saya tiba di Shenzhen tanggal 1 Mei pukul 7 pagi, namun karena ada delay 2 jam lebih (kabarnya ada angin taifun) jadinya jam 9 lebih baru tiba di Bandara Shenzhen. Ditambah dengan waktu antrian keluar pesawat dan antrian mengambil bagasi, kami rombongan 9 orang dari Indonesia baru keluar dari Bandara Shenzhen menuju Hotel Vienna sekitar pukul 10, dan tiba di Hotel Vienna sekitar jam 11 siang.

Pagi itu cuaca di Shenzhen  lumayan nyaman dan sejuk. Suhu udara sekitar 20-25 derajat celcius, mirip dengan sejuknya kota Bandung. 

Perjalanan malam hari memang cukup membuat badan lebih penat. Kami sudah berkumpul di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta sekitar jam 10 malam tanggal 30 April 2019. Kami berkordinasi terlebih dahulu, berbagi tugas dan sedikit briefing mengenai acara di sana. Ada hikmahnya juga, karena mestinya jam 12 malam sudah boarding, kami jadi punya waktu berkeliling bandara 2 jam. Sebagian ada yang ngopi ada yang berkeliling ambil foto selfi yang menarik. 

Kedatangan kami ke Shenzhen adalah dalam rangka berkunjung ke Shenzhen International Pet Fair yang berlangsung tanggal 2-5 Mei 2019. Rombongan kami meliputi wakil dari dokter hewan praktisi, perusahaan obat hewan, perusahaan makanan hewan, pet breeder, asosiasi penyayang hewan, media dan stakeholder lainnya di bidang pet industry, Saya sendiri hadir mewakili majalah Cat & Dog, majalah khusus yang mengulas dunia kucing dan anjing.

Dari Kota Nelayan ke Kota Teknologi
Shenzhen bertetangga dengan HongKong, jauh dari Beijing

Kota Shenzhen terletak di Zhusanjiao atau Sungai Pearl, berbatasan dengan Hong Kong di selatan, Huizhou di utara dan timur laut, Dongguan di utara dan barat laut. Lingdingyang dan Sungai Pearl di barat serta Mirs Bay di timur dan kira-kira 100 kilometer (62 mil) di tenggara dari ibukota provinsi GuangzhouKota ini luasnya 2 ribu kilometer persegi (769 sq mi) termasuk daerah perkotaan dan pedesaan, dengan total populasi 12,5 juta  tahun 2018. Memiliki bentuk memanjang, berukuran 81,4 kilometer dari timur ke barat sedangkan dari utara ke selatan hanya 10,8 kilometer.


  

henzhen, kota nelayan jadi modern
x

Menurut sejarahnya, Shenzhen City awalnya hanyalah desa nelayan yang biasa bahkan termasuk desa miskin pada tahun 1970 dengan jumlah penduduk hanya ribuan orang. Ketika dikembangkan menjadi Daerah Ekonomi Khusus (DEK) pada tahun 1980, kota ini berubah menjadi Kota Industri. Konon Shenzhen City dibangun untuk menyaingi Hong Kong yang pada waktu itu masih berada di bawah Pemerintahan Inggris. Faktor utama kemajuan Shenzhen yang sangat pesat adalah kebijakan  "reformasi dan keterbukaan " di akhir 1979 oleh pemerintahan China, yang memungkinkan investasi asing. Shenzhen kini dianggap salah satu kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Dikenal juga sebagai ibukota teknologi China, karena di kota inilah berbagai macam teknologi berkembang, termasuk teknologi IT. 

Karena begitu cepatnya China membangun Shenzhen di tahun 1990-an, Shenzhen digambarkan dengan perumpamaan membangun,"Satu highrise sehari dan satu boulevard setiap tiga hari". Kalau di Indonesia, pembangunan Shenzhen itu ibarat kisah Roro Jonggrang yang membangun 1000 candi dalam semalam.

Shenzhen After Construction Boom

Anjing Pun Disiplin 

Kesan pertama ketika tiba di Shenzhen adalah kita masuk ke kota di Asia yang modern dan disiplin. Mirip dengan Singapura, pada umumnya trotoar di jalan raya ini lebarnya bisa untuk dua bus berpapasan.
Pastinya di sini tidak ada pedagang kaki lima berderet yang mengganggu pejalan kaki. Yang ada adalah para pejalan kaki dan pesepeda, dan beberapa pedagang buah di beberapa sudut yang jumlahnya sangat terbatas (pasti diatur dengan ketat oleh pemerintah kota).
Sewa sepeda, tinggal scan barcode via Hp. 

Nah ini yang menarik, sepanjang jalan banyak sepeda diparkir. Ini adalah sepeda sewa yang bisa dipakai siapa saja dan diparkir di trotoar jalan . Seorang karyawan dari rumah tinggal naik MRT dan dari stasiun MRT menuju kantor bisa sewa sepeda ontel atau sepeda listrik/motor listrik.

Sewa sepeda ini semuanya dengan menggunakan aplikasi. Pengguna tinggal scan barcode dengan telepon seluler dan sepeda langsung bisa diaktifkan. Pembayaran ya jelas pakai uang virtual juga. 

Pedagang buah di pinggir jalan

Ini bukan hanya berlaku di sepeda tapi juga untuk naik kereta, belanja di toko maupun makan di warung. Anak-anak Tiongkok tampaknya kini tak ada yang bawa uang tunai. 

Namun jangan harap Anda bisa naik taksi dan ojek online bermerk Grabcar atau Gojek . Anda juga tidak bisa buka medsos facebook, whattapps, atau instagram atau mesin pencari google. Masyarakat di sini wajib menggunakan media internet buatan lokal, antara lain WeChat untuk medsos dan aplikasi pembayaran dan Baidu untuk mesin pencari yang mirip google.

Sebagian besar restoran juga tidak menerima pembayaran kartu kredit berlogo visa atau mastercard (yang dijanjikan penerbitnya bisa dipakai di seluruh dunia). Kartu kredit juga harus buatan lokal. Saya simpulkan, pemerintah China mendorong rakyatnya menggunakan buatan dalam negeri termasuk dalam bermedsos dan berbelanja dengan kartu kredit. 
Salah satu pusat belanja di Shenzhen

Untungnya kami rombongan Indonesia masih diperbolehkan membeli paket data asal Indonesia (telkomsel, indosat, xl dan yang lainnya) dan ternyata setelah beli paket data Indonesia kami bisa berkomunikasi antar anggota rombongan maupun keluarga di Indonesia dengan aplikasi whattapps dan bisa share foto dan berita di facebook dan instagram. Jadinya kami tetap bisa mencintai produk Indonesia, eh bukan ya, ini produk Amerika hehe. Wi-fi gratis dari hotel tidak dimanfaatkan, karena berpotensi wa langsung non aktif.

Karena kartu kredit nggak laku, sepanjang 3 hari di Shenzhen tampaknya yang bawa duit mata uang Yuan tunai hanya para turis saja, termasuk rombongan saya.

Kesan lainnya adalah kedisiplinan warga setempat. Di malam hari seekor anjing berjalan sendirian, sampai di lampu merah dia berhenti. Ketika lampu hijau menyala , anjing itu langsung menyeberang jalan. Sungguh ini pemandangan yang menakjubkan, seekor anjing pun sudah dilatih untuk patuh pada rambu lalu lintas.
Trotoar yang luas

Jika anjing saja bisa disiplin, tentu saja warga setempat juga disiplin. Yang agak kurang mengasyikan adalah sepeda di sini justru tidak mengikuti rambu lalu lintas. Ia bebas menyelinap di tengah kerumunan atau lalu lalang manusia. Mereka berjalan di sepanjang trotoar.  Sepeda maupun sepeda motor semuanya tidak terdengar suaranya, karena menggunakan energi listrik. Begitupun taksi, mobil pribadi, bus kota tak ada satupun yang mengeluarkan asap. Kota ini menjadi bersih meskipun padat.

Dengan penduduk sebanyak 12,5 juta, Shenzhen memang cukup ramai, tapi tidak mengalami kemacetan parah sebagaimana Jakarta. Kota ini dirancang secara futuristik, sehingga segala pergerakan manusia sudah difasilitasi dengan angkutan umum yang murah.
MRT di Shenzhen, mirip dengan MRT Jakarta

Menggunakan MRT dari lokasi pameran ke pusat perbelanjaan Dong Men hanya 3 Yuan atau sekitar Rp. 6.000 saja. MRT nya juga tidak terlalu padat, setidaknya ketika saya mencoba menjajal angkutan umum tersebut.

Hanya saja di daerah ini jarang sekali orang bisa berbahasa Inggris. Kerap kali untuk naik taksi harus menggunakan "bahasa Tarzan". Selain kesulitan bahasa, juga belum tentu mereka bisa membaca huruf latin. Maka jika anda jalan jalan, sebaiknya minta kartu nama hotel yang biasanya ada huruf Latin dan China, sehingga jika balik lagi ke hotel tinggal menunjukan kartu nama hotel kepada supir taksi.

Di sini lalu lintas dan kendaraan menggunakan aturan Amerika, dengan setir kiri. Maka hati-hati tengok kiri kanan kalau menyeberang di lokasi yang tidak ada jembatan penyeberangan.

Untuk colokan listrik, sebagaimana kalau kita ke luar negeri sebaiknya siapkan colokan 3 lubang, supaya anda nggak bingung saat  mengisi batere (charge) hp.

Shenzhen Pet Fair Tampilkan Potensi Bisnis Negara Mitra


Salah satu sudut Shenzhen Pet Fair
Shenzhen Internasional Pet Supplies Exhibition (Shenzhen Pet Fair)  berlangsung di sebuah convention hall di pusat kota. Kami menginap di Vienna Hotel yang jaraknya hanya 4 km dari lokasi. Penyelenggara menyediakan shuttle bus gratis untuk berjalan dari hotel ke lokasi pameran. Di hotel ini juga ada rombongan dari Malaysia (dan mungkin ada dari negara lain) 

Pameran ini kabarnya merupakan pameran Pet terbesar no 2 atau 3  di China. Dari laporan penyelenggara, pameran ini baru yang kelima kalinya, namun pertumbuhan peserta maupun pengunjung sangat pesat. CEO Shenzhen Pet Fair Steven Song, saat saya tanya suasana hari pertama , sangat optimis bisa mendatangkan 100 ribu pengunjung selama 4 hari pameran (2-5 mei) sebagaimana yang ditargetkan.
Delegasi Indonesia

"Kemarin hari pertama tercatat 30 ribu pengunjung, padahal untuk hari pertama dan kedua untuk B to B (Business to Business) jadi saya yakin sampai hari minggu 5 Mei bisa 100 ribu pengunjung , Sabtu Minggu biasanya pengunjung membludak, karena dibuka untuk umum," ujarnya sembari tersenyum bangga ketika saya temui di lokasi pameran di hari kedua.

Tidak lupa ia menyampaikan terima kasih atas kehadiran rombongan dari Indonesia, dan pihaknya siap berkunjung ke Indonesia di Pameran Pet bulan Agustus di ICE BSD.

Dari acara yang berlangsung, saya menangkap kreativitas di saat opening ceremony. Di sini acara pembukaan tidak menghadirkan para pejabat setingkat Dirjen atau Menteri sebagaimana di Indonesia. Para exhibitor tidak begitu peduli dengan kehadiran pejabat, yang penting pengunjung pameran sesuai target, baik jumlah maupun profil.


Kreativitas yang saya tangkap adalah, pada saat opening, pihak penyelenggara memberikan presentasi kinerja pameran, perkembangan dari tahun ke tahun. Setelah itu disusul presentasi dari negara mitra, dalam hal ini Thailand, Malaysia dan Indonesia. Ketiga negara ini menyampaikan perkembangan pet industry di negara masing-masing. Indonesia diwakili oleh Drh. Rijanti, praktisi dokter hewan senior, dan Didit Siswodwiatmoko, CEO IIPE.

Dengan menampilkan profil tersebut, para peserta pameran (exhibitor) memberikan apresiasi atas capaian perkembangan pameran dan dapat melihat peluang pasar di negara lain khususnya wilayah ASEAN.

Menurut penyelenggara, pasar hewan kesayangan di Asia berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Pada 2017, pasar industri hewan kesayangan China mencapai 134 miliar yuan, dengan tingkat pertumbuhan industri sebesar 30,9%/tahun. Diperkirakan market akan melampaui 200 miliar yuan pada 2019 (lebih dari Rp 400 triliun, dengan asumsi 1 Yuan = Rp, 2.200)
Dengan pertumbuhan pet industry di ASEAN, maka Asia menjadi pasar hewan peliharaan yang paling pesat di dunia. Tidak heran jika pameran Pet di negara China bertumbuh pesat. Ratusan pameran besar dan kecil berlangsung di berbagai provinsi di negara China dalam setahun.

Indonesia adalah salah satu negara yang mengalami pertumbuhan pesat di dunia bisnis hewan kesayangan. Setidaknya tampak dari adanya 2 pameran pet animal per tahun di  Jakarta (Indonesia International Pets Expo/IIPE dan Jakarta Indonesia Pets Show/JIPS) dan berbagai macam event lomba, kontes dan pameran di berbagai daerah.

Oya mengenai produk yang dipamerkan di event ini hampir sama dengan pameran di Indonesia, meliputi petfood, obat hewan, aksesoris hewan, peralatan peliharaan, permainan, teknologi digital. Bedanya di sini, hampir semua produk yang dipamerkan adalah produk dalam negeri China.

Begitulah catatan perjalanan saya ke Shenzhen, China. Silakan nikmati video Instagram tentang suasana Shenzhen City dan suasana pameran karya Alexander Aditya Darma yang ikut dalam rombongan kami. Semoga bermanfaat. ***

Terima kasih atas foto-foto dari group wa Shenzhen Pet Fair Tour, khususnya kepada Pak Arman Hermawan, Pak Didit Siswodwiatmoko, Drh. Rajanti Fitriani, Drh. Rusminie, Pak Lamhot Simanungkalit, Pak Aditya Darma, Pak Patria Sandi, Pak Ricky.  

Share:

Tuesday, April 30, 2019

PIKIRANMU ADALAH OBAT BAGI SAKITMU

Buku ini bisa dibeli di Bukalapak
Filsuf Plato pernah mengatakan, hati-hati dengan pikiranmu. Kekuatan pikiran mampu menjadi obat sekaligus racun. Jika dilandasi dengan serakah, benci, dan iri, ia adalah racun. Sebaliknya jika dilandasi dengan cinta, ia adalah obat yang paling manjur.

Kata-kata bijak tersebut saya kutip dari tulisan pak Andrie Wongso, Motivator nomor satu Indonesia,  dalam buku saya yang berjudul "Menggali Berlian di Kebun Sendiri," Ia menulis itu sebagai kalimat endorsement untuk buku saya.

Kata Pak Andrie Wongso, buku Menggali Berlian di Kebun Sendiri memberikan pencerahan bagi kita untuk mengelola kekuatan pikiran dan tindakan dengan sebaik-baiknya.

Wah, senang dan bangga mendapat pujian seperti itu dari motivator nomor satu Indonesia.

Tapi tulisan ini bukan bercerita tentang buku saya, melainkan tentang seorang dokter yang memberi nasihat kesehatan yang berbeda dengan dokter pada umumnya. Hampir semua nasihatnya adalah tentang bagaimana kita mengelola pikiran agar kita menjadi sehat. Bahkan, katanya, pikiran itu mampu menjadi obat bagi bermacam penyakit. persis sama dengan kata Filsuf Plato dan Andrie Wongso, Yuk kita simak ceritanya.


Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit...
“Silakan duduk,” sambut dr.Paulus.
Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”

“Kuat, Pak.”

“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”

Aku terbengong, menunggu penjelasan.

“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”

“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”

“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.

“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”

Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas: ‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’. Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”

“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatla sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.

“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”

“Iya, Pak.”

“Itu salah kaprah.”

“Maksudnya?”

“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”

“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”

“Ya ‘kan bisa di rumah.”

“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”

“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.

“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.

Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.

“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.

Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.

Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”

“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.
Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu.
Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.

“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.

Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”

“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”

“Wah, wah, wah..”

“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”

“Lhoh, njenengan pernah Pak?”

“Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring.

Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.

Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri.
Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.”

Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.

Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha.
Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika.

Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun.

Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika.
Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika.
Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah.

Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker.
Nah dia pun kaget, tambah penasaran.”

Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.

“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan?
Orang-orang di sana makannya sangat sehat.
Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita.

Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.

Jadi ya betul-betul sehat.
Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita.

Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan.
Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.

Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”

“Hasilnya, Pak?”

“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.

Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.
Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”

“Sembuh, Pak?”

“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.
Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.

Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.

Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..”

Takjub, tentu saja.

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.

Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya.

Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.
Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.

Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.

Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.

Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.

Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau.

Bacin, mirip bangkai tikus,kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.

Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati.

Pihak rumah sakit pun heran.
Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!

Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik.

Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.

Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.”

Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda.

Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal.

Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan.
Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,

“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”

Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.

Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.
Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.”

Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.

Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

“Puasa?”
“Ya!”
“Senin-Kamis?”

“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”

Lagi-lagi,aku manggut-manggut.

Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.

Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.

Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.

Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.

Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.

Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?;kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.

Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.

Terima kasih Pak Paulus.

Cerita tentang dokter Paulus di atas dicopy oleh Wiwiet Prawitasari di group wa fapet Unsoed 85, dengan sumber dari wordpress GUBUGREOT

keyword : kata-kata bijak terbaru 2018
bambang suharno, andrie wongso
Share:

Saturday, April 20, 2019

Belajar dari Banyuwangi (Dahlan Iskan)

Ada satu kelompok orang miskin yang tidak mungkin dientas. Mereka janda, atau duda. Sudah tua. Tidak punya keluarga. Rumah juga tiada.
Diberi modal pun tiada guna. Apalagi diberi penataran. kata mutiara kehidupan

Perkiraan saya jumlahnya 5 juta. Di seluruh Indonesia.

Bagi kelompok ini, yang penting adalah jaminan bisa makan. Setidaknya dua kali sehari. Kalau sakit bisa berobat. Gratis. Punya baju meski tidak baru. Punya selimut. Atau sarung yang multi guna.

Tapi yang terpenting sebenarnya keperluan jenis ini: teman bicara. Teman ngobrol. Teman curhat.

Inilah sebenarnya tujuan panti jompo. Agar punya banyak teman sebaya. Tapi dari namanya saja sudah begitu menghina. Siapa yang mau terhina tinggal di sana.

Di Banyuwangi saya melihat contoh ideal. Saat saya ke sana. Sabtu-Minggu kemarin. Bupati Banyuwangi Azwar Anas sudah punya datanya: 2.000 sekian. Lengkap dengan nama dan alamatnya.

Anas juga punya solusi: kirim makanan dua kali sehari. Tiap kali satu rantang berisi tiga.

Dia tahu birokrasi tak akan mungkin menanganinya. Maka dia tunjuk warung-warung terdekat.

Misalnya warung bu Fatimah. Saat saya ke warung itu rantang sedang dipersiapkan. Ada warna merah dan hijau. Untuk pengiriman sore.

Untuk makan malam. Bu Fatimah punya dua ‘loper’. Yang mengantar rantang itu. Sekaligus mengambil rantang kosong.

Setiap bulan Bu Fatimah menerima pembayaran dari Pemda. Serantang Rp 18.000. Juga bertanggungjawab atas mutu makanan.

Sore itu saya kunjungi Bu Tampani. Seorang janda. Umur 80 tahun. Punya tiga anak. Tapi semua meninggal sebelum umur dua tahun.

Suaminya, seorang nelayan, juga sudah meninggal. Lebih dari 40 tahun lalu.

Tapi fisik Bu Tampani cukup baik. Pendengarnya masih ok. Ingatannya masih segar. Bicaranya masih jelas. Tidak pikun. Tidak tremor.

Dialah salah satu penerima rantang itu. Kebetulan tetangga-tetangganya masih sering mengajak dia ngobrol.

Saya yakin ada Pemda lain yang memiliki program seperti Banyuwangi. Hanya saja saya tidak tahu.

Tapi Pemda yang melakukannya seperti tidak mendapat nama. Seolah kurang berhasil dalam menangani kemiskinan.

Meski telah tertangani, tetap saja mereka masuk kelompok miskin. Mereka tidak menjadi faktor pengurang angka kemiskinan.

Mungkin ada baiknya dilakukan begini: mereka yang sudah tertangani dari kelompok ini dikeluarkan dari angka kemiskinan. Bikinkan kategori khusus.

Mereka memang tidak mungkin dientas. Dalam pengertian dibuat kaya. Yang penting kebutuhan mereka terpenuhi.

Banyuwangi memang punya ribuan terobosan. Salah satunya pembentukan ‘smart kampung’. Anas melakukan revolusi digital mulai dari kampung.

Inilah kabupaten yang majunya sangat nyata. Dulu Banyuwangi sulit maju karena jauh dari mana-mana.

Anas bangun bandara. Kini sudah ada penerbangan langsung Jakarta-Banyuwangi. Tiga kali sehari. Juga dari Surabaya. Tak lama lagi dari Singapura dan Kualalumpur.

Banyuwangi yang bisa berbuat begini. Ekonominya tumbuh 6,7 persen. Angka yang sulit dicapai nasional. Bupati memang juga harus pabrik ide. Dan CEO yang handal.

Bahkan hal sepele pun dia perhatikan. Misalnya omongan yang bersifat tahayul. Tapi meluas. Menjadi kepercayaan umum. Merusak mental. Maklum Banyuwangi juga dikenal sebagai ibukota santet nasional. Dulu. Tidak pernah damai. Kisruh terus. Demo terus.

Masyarakat sudah sampai tingkat percaya Banyuwangi sulit maju. Kantor bupatinya saja menghadap makam besar. Taman makam pahlawan. Di halaman makam itu ada patung pedang dan tombak. Itu yang membuat kabupaten berdarah-darah.

Tentu Anas tidak percaya yang begituan. Tapi meluasnya kepercayaan seperti itu harus dibasmi. Bukan dengan khotbah atau kecaman. Tapi tindakan.

Patung senjata itu dia bongkar. Halaman makam itu dia mundurkan. Menjadi luas. Lalu dia hutankan. Dengan pohon sawit. Rapat. Rindang. Dia buat plaza di bawahnya. Dia pasangi wifi.

Kini makam itu tidak terlihat dari luar. Yang tampak adalah hutan sawit yang rimbun dan indah. Anak-anak muda berwifi ria di naungannya.

Belum cukup. Dua kanon meriam dia pasang di depan kantor kabupaten. Meriam besar. Menghadap makam. Senjata yang lebih besar untuk menangkis pedang dan tombak yang sudah tidak ada.

Sudah tujuh tahun tidak ada demo di Banyuwangi.

Bukan karena makamnya sudah ditutup hutan sawit. Tapi Anas membuat masyarakat sibuk berkarya.

Lebih 150 festival dia buat setiap tahun. Mulai dari tari ‘gandrung seribu’ sampai lari ke gunung Ijen.

Aneh sekali kalau kawasan Toba tidak bisa bangkit seperti Banyuwangi. Bandara Silangit harus bisa jadi bandara Banyuwangi. Tapi memang. Memang. Harus ada Azwar Anas di sana.

Itu pula yang membuat saya menyarankan pada bupati Sambas, Kalbar, H Atbah Romin Suhaili LC.

Saat beliau ke rumah saya. Mencari cara membangun Sambas. Yang begitu jauh. Yang bertetangga dengan Serawak.

Bangunlah bandara. Manfaatkan nilai jual tetangga: kota Singkawang.

Bekerjasamalah dengan walikota Singkawang. Jangan bersaing. Apalagi bertengkar. Hanya demi gengsi.

Begitu banyak orang ingin ke Singkawang. Apalagi saat Cap Go Meh. Atau Imlek. Atau ceng beng. Terlalu tersiksa untuk ke Singkawang. Harus lewat Pontianak.

Banyuwangi literatur hidup untuk semua itu.*** Kata mutiara kehidupan
Share:

Saturday, January 26, 2019

Sang Guru Pembuka Jalan Masa Depan



Satu langkah kecil dari seorang manusia (pemimpin), dapat menjadi satu lompatan besar bagi kemanusiaan (Neil Amstrong 19302012)


Siang itu sepulang dari kantor, pak Rusdi tiba-tiba berhenti di depan rumahku dan bercakap-cakap dengan bapakku yang sedang menyapu halaman di depan rumah. Demikian Ayo Sugiryo alias Suryo, seorang guru SMA Internasional di Purwokerto , memulai tulisannya yang berjudul “Sang Guru Penyelamat” dalam sebuah buku “Mimpi-mimpi Kecil dan Seribu Kemarau

Berikut saya kutip sebagian kisahnya .
Sebagai anak kampung kelas VI SD, melihat seorang kepala sekolah mampir ke rumah, aku lari ketakutan hingga menyelinap di kamar ruang depan sambil berusaha menguping percakapan dua orang dewasa itu. Antara Bapak dan Pak Rusdi, kepala sekolah SD. Ada apa Pak Rusdi tiba-tiba mampir ke rumahku? Saat itu saya kelas 6 SD di sekolah yang dipimpin Pak Rusdi.

“Beneran lho kang. Jangan sampai Suryo tidak lanjut SMP. Kasihan anak lanang satu-satunya. Pinter lagi sekolahnya.” Pak Rusdi tiba-tiba menasehati bapak. Bapak kelihatan semakin tidak mengerti maksud Pak Rusdi. Untuk apa dia merayu-rayu anaknya untuk lanjut sekolah?



Nuwunsewu (mohon maaf-red) Pak Kepala. Biaya dari mana untuk si Suryo sekolah SMP? SMP itu kan biayanya secikrak (satu keranjang sampah-red). Mau jual apa saya Pak?” Jawab Bapak  jujur. Saat itu, jenjang sekolah tingkat SMP sudah luar biasa di desaku dan luar biasa mahalnya menurut ukuran orang tuaku dan orang tua teman-temanku yang sebagian besar penghasilannya dari  usaha tani yang lahannya tidak seberapa luas.

Dari balik dinding bambu kamar, aku memejam-mejamkan mata dan melebar-lebarkan daun telinga untuk dapat konsentrasi penuh dengan percakapan mereka. Hatiku berdebar-debar mendengarkan percakapan mereka yang menggosip tentang diriku. Sungguh saya sangat terharu, rupanya Pak Rusdi sebegitu perhatian terhadapku. Sampai-sampai menginginkanku harus lanjut ke SMP. Dalam benakku, apakah semua bapak teman-temanku juga didatangi dan ditanyai seperti itu? Ah, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah bahwa Pak Rusdi benar-benar baik dan dia sedang memperjuangkan masa depanku. Ya Allah! Terimakasih engkau telah mengirimkan malaikat terbaik untukku!

“Kang Maryo apa tidak kasihan sama Suryo. Suryo itu anaknya rajin. Di sekolah kerjaannya baca buku di perpustakaan. Dia itu nggak pernah ke warung depan sekolahan pas istirahat. Apa kang Maryo ndak tahu kalau  si Suryo itu seneng belajar ? Seneng baca buku?” begitu pak Rusdi terus merayu dengan menyampaikan fakta-fakta tentangku.

Aku pun bingung. Dari mana Pak Rusdi sebagai Kepala Sekolah tahu kalau aku suka membaca dan belajar? Dari mana Pak Rusdi tahu kalau aku ingin sekolah terus? Aku tak habis pikir mengapa pak Rusdi yang sangat memahami aku dan mengerti keinginanku. Ah, bagiku Pak Rusdi itu seorang guru yang hebat yang menginginkan anak didiknya tak berhenti hingga sekolah dasar. Dia bagaikan sang penyelamat bumi masa depanku yang hampir kiamat.

Bapakku tampak manggut-manggut, mungkin otaknya sedang berfikir keras terkena hasutan malaikat pencatat kebaikan. Antara bisa dan tidak untuk melanjutkan anak lelaki satu-satunya ke jenjang pendidikan SMP. Waktu itu anak-anak desa Tlaga, Kecamatan Gumelar (berjarak 40 km dari Kota Purwokerto Jawa Tengah)  yang sekolah SMP hanya berkisar anaknya pegawai tingkat desa seperti anak mantri puskesmas, anak guru, anak mandor perhutani, dan anak lurah. Untuk anak petani biasa seperti aku, lulus SD harus siap dengan segala konsekuensi masyarakat kalangan bawah. Hanya ada dua pilihan; tetap tinggal di desa dan siap membantu orang tua bertani atau pergi merantau ke Ibukota.
Dan sekarang aku akhirnya benar-benar bertengger di atas bukit impianku, melanjutkan sekolah di SMP. Terima kasih Bapak, terimakasih Pak Rusdi!

***
Silaturahmi dengan keluarga di Purbalingga

Saya ikut terharu membaca kisah hidup Suryo . Gara-gara perhatian seorang Pak Rusdi, orang tuanya berjuang keras mencari nafkah untuk menyekolahkan Suryo hingga SMP. Bahkan kemudian dengan berbagai upaya, ia mampu melanjutkan hingga pendidikan tinggi.  Ia menceritakan sebuah ketulusan dan kejujuran seorang guru yang berdampak sangat besar bagi muridnya. Seorang Rusdi baginya bukan sekedar guru namun pembuka jalan masa depan yang semula gelap.

Berkumpul keluarga besar di kala lebaran (2015)
Mungkin bagi Pak Rusdi, pekerjaan bernegosiasi dengan orang tua murid hanyalah langkah kecil saja. Karena dalam jiwanya sudah tertanam untuk mengabdi sebagai pendidik secara total, bukan sekedar mengajar di kelas. Jika ada anak membolos beberapa hari saja, tak segan-segan ia datangi rumahnya untuk mencari informasi penyebab nya. Dan sebaliknya jika ada anak yang pintar, ia berjuang agar orang tuanya berjuang untuk menyekolahkan anaknya.

Apa yang dilakukan Rusdi adalah tindakan seorang pemimpin, yang melihat dimana ada benih potensial untuk masa depan. Ia juga berperan sebagai motivator untuk para orang tua agar memperjuangkan anaknya untuk bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Maklum, ia mendapat tugas di daerah terpencil dimana para petani pada umumnya tidak berhasrat menyekolahkan anaknya, yang penting bisa baca tulis saja.

Kehadiran Rusdi yang disebut sebagai sang guru penyelamat telah membuat nasib seorang suryo yang semula hampir senasib dengan teman seusianya menjadi petani atau buruh tani, berubah seketika menjadi siswa SMP dan kemudian bisa melanjutkan hingga sarjana.

Ketika terdengar kabar bahwa Bapak Rusdi meninggal dunia tanggal 21 Januari 2019, Suryo memposting copy buku dan mengucapkan, terima kasih yang tak terhingga dan Selamat Jalan untuk Pak Rusdi. “Saya kehilangan sosok seorang pendidik seperti Pak Rusdi, Sang Guru Penyelamat” kata Suryo.

Rusdi Hadiyuwono kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah, 18 September  1938. Lulus dari Sekolah Guru Atas (SGA) di Purwokerto, ia mendapat tugas ke pelosok desa terpencil tahun 1956. Di saat itu di Gumelar sedang berkecamuk perang melawan DI/TII. Konon saat pamit mengemban tugas, orang tuanya menangis agar jangan berangkat. Namun Rusdi muda tetap berangkat menjalankan tugas negara merintis sekolah dasar mulai dengan pinjam rumah penduduk sebagai kelas, hingga pemerintah membangunkan bangunan SD yang terbuat dari kayu dan bambu.

Penghayatannya sebagai guru di desa terpencil merupakan bagian terbesar dari perjalanan pengabdiannya . Ia selalu hafal dengan murid-muridnya bahkan dengan para orang tua muridnya.

Dan saya pun sangat terharu membaca tulisan yang diposting di facebook oleh Ayo Sugiryo (Suryo), karena yang ditulis itu adalah ayah saya sendiri yang berpulang 21 Januari 2019 lalu.  Ia hanya seorang Guru SD, bukan tokoh nasional, namun ternyata apa yang dilakukan ayah saya begitu dikenang oleh muridnya hingga namanya diabadikan dalam sebuah buku.

Betul kata mutiara kehidupan dari Neil Amstrong, Satu langkah kecil dari seorang manusia (pemimpin), dapat menjadi satu lompatan besar bagi kemanusiaan

Selamat Jalan Ayah.
Kami sangat bangga dan bersyukur menjadi anakmu.
Engkau telah tiada, tapi keteladanmu tetap hidup.
Semoga pengabdianmu tak sia-sia di hadapan Allah SWT.
Amien Ya Robbal Alamin.***


Tulisan ini saya susun untuk mengenang Ayah Kami Tercinta H. Rusdi Hadiyuwono (1938-2019) dan sebagai ucapan terima kasih kepada pak Sugiryo penulis buku "Mimpi-mimpi Kecil dan Seribu Kemarau" serta terima kasih kepada para guru dimanapun berada yang telah mengabdi dengan  tulus ikhlas .

Kami juga mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada Saudara, sahabat, tetangga, handai taulan yang telah memberikan bantuan dan perhatian begitu besar serta doa yang tulus. Antara lain kepada :
1. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Bapak Dr. Drh. I. Ketut Diarmota MP, beserta jajaarannya
2. Pengurus Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI)
3. Keluarga besar PT Medion
4. Komisaris, Direksi dan Karyawan PT Gallus Indonesia Utama
5. Bapak Roni Fadillah ketua Keluarga Alumni Fakultas Peternakan (Kafapet Unsoed) Jabodetabek  dkk 
6. Bapak Bambang Rijanto Japutra (BRJ) Ketua Kafapet Pusat dan tim.
7. Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar Indonesia )
8. Forum Media Peternakan (Format)
9. Sahabat yang hadir sebagai pribadi maupun mewakili organisasi antara lain  Pak Bambang Basuki Catur, Pak Dwi Suranto, Pak Kuntoro , Pak Sugeng Arief , Pak  Isro Suhadi (Kafapet angkatan 85), Bu Tarti, Pak Agus Ponco Sugiono (alumni SMA 1 Purwokerto), Pak  Lukman dkk (alumni SMP 1 Ajibarang), , Bambang Rijanto Japutra (BRJ) dan Arief Aceh (Kafapet Pusat), Kohar dan Rizky Yunandi (PT Gallus) dan lain-lain yang tidak bisa saya sebut satu per satu.










Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala yang terbaik. Amien YRA. 

Bambang Suharno dan keluarga

Share:

Saturday, January 19, 2019

SEPULUH Nasehat Sayyidina Ali

Ada 10 kata-kata nasehat Sayyidina Ali bin Abi thalib yang layak sebagai kata mutiara kehidupan kita yaitu :

  1.  Dosa terbesar adalah “Ketakutan”
  2.  Rekreasi terbaik adalah “Bekerja”
  3.  Musibah terbesar adalah “Keputusasaan”
  4.  Keberanian terbesar adalah “Kesabaran”
  5.  Guru terbaik adalah “Pengalaman”
  6.  Misteri terbesar adalah “Kematian”
  7.  Kehormatan terbesar adalah “Kesetiaan”
  8.  Karunia terbesar adalah “Anak yang sholeh”
  9.  Sumbangan terbesar adalah “Partisipasi”
  10.  Modal terbesar adalah “Kemandirian”

Share:

Monday, January 07, 2019

Menikmati Tahun Baru 2019 di Mekah

Alhamdulillah tanggal 1 Januari 2019 saya beserta istri berkesempatan untuk berada di kota suci Mekkah, menjalankan ibadah umroh sehingga dapat menikmati "suasana tahun baru" di tanah suci, yang sangat berbeda dengan suasana tahun baru di kota lain di muka bumi ini.

Berangkat bersama travel Risalah Madina tanggal 28 Desember 2018 saya mengambil paket umroh 8 hari. Rombongan kami berjumlah 70an orang yang berasal dari Jakarta,  Semarang Surabaya dan Padang.

Untuk Anda yang belum pernah menjalankan ibadah umroh perlu diketahui bahwa bulan Desember merupakan bulan yang cukup nyaman untuk ibadah umroh. Suhu udara di Mekkah dan Madinah berkisar 20 sampai 25 derajat Celcius, sejuk seperti di kawasan Puncak Bogor . 

Ini yang mungkin menyebabkan bulan Desember  menjadi bulan favorit bagi masyarakat Indonesia untuk menjalankan ibadah Umroh.  Lagi pula bulan Desember adalah bulan liburan sekolah dan para karyawan bisa mengambil cuti. 

Berangkat tanggal 28 Desember 2018 menuju Kuala Lumpur. Menikmati suasana "semalam di Malaysia". Tanggal 29 Desember pagi hari, kami terbang ke Jedah dengan waktu tempuh sekitar 8 jam.
Ada dua cara untuk ibadah umroh,  yaitu diawali ibadah di Madinah kemudian ke Mekah, atau dimulai dengan umroh di Mekah,  baru ke Madinah.
Rombongan saya dari Jedah langsung ke Mekah.

Tata tertib ibadah umroh sangat detail, mulai dari urutannya (rukun umroh) dan larangan-larangannya
Ibadah umroh yang langsung menuju Mekah diwajibkan memakai kain ihrom sebelum kota Yalamlam yang posisinya sebelum Jedah.  Sehingga kami para jamaah harus menggunakan kain ihrom di atas pesawat menjelang Yalamlam.
Ketika posisi Yalamlam semakin dekat awak pesawat berulang kali mengumumkan agar penumpang yang mau umroh harap segera berihrom.


Selain masjidil haram sebagai pusat ibadah umroh dan haji, ada icon penting di Mekah yaitu Tower Zam Zam yang posisinya persis di samping masjidil Haram. Kebetulan hotel tempat kami menginap tidak jauh dari icon ini.

Ibadah umroh disertai dengan citytour ke lokasi penting yang terkait dengan sejarah Nabi Muhammad saw, antara lain jabal nur, jabal rahmah, jabal uhud, gua hiro , tempat kelahiran Nabi dan lain lain












Ini adalah bukit dimana terdapat gua Hira tempat dimana Nabi Muhammad saw menerima wahyu yang pertama.

Salah satu cara menikmati indahnya suasana masjidil haram adalah dengan sholat di rooftop (lantai paling atas), setelah itu menikmati pemandangan jamaah dari seluruh dunia yang sedang mengelilingi kabah (tawaf). Inilah yang saya lakukan di malam tahun baru 2019. Ini adalah pemandangan yang luar biasa. Kabah adalah tempat ibadah dimana 24 jam nonstop selalu ramai dikunjungi umat muslim dari seluruh dunia.


Potong rambut setelah umroh, merupakan bagian dari ibadah

.
Mesjib Quba, merupakan mesjid yang pertama dibangun Rasulullah di Madinah
Makan Rasulullah di kawasan Masjid Nabawi Madinah

Tanggal 1 januari 2019 sore hari kami berangkat menuju Madinah dengan waktu tempuh 6 jam menggunakan bus. Jarak Mekah-Madinah sekitar 480 km.

Kota ini lebih dingin dari Mekkah. Di kota ini pula jamaah bisa menikmati wisata belanja mulai dari kurma, parfum, perlengkapan ibadah, pakaian dan sebagainya.
Anda yang tidak bisa bahasa Arab atau Inggris, tidak usah khawatir, hampir semua pedagang Arab bisa berbahasa Indonesia. Mereka sangat senang melayani jamaah Indonesia yang kebanyakan sudah siap berbelanja dengan jumlah yang cukup banyak dibanding rata-rata jamaah dari negara lain. Bahkan mata uang rupiah bisa dipakai untuk transaksi jual beli di sana dengan kurs Rp 4.000/real.

Harga harga barang tergolong murah, jauh lebih murah dibanding harga Eropa, bahkan dengan harga Jakarta.***


Share: