Sunday, March 27, 2011

Menyikapi Perubahan


Perubahan (change) menjadi tema sangat penting di masa sekarang. Renald Kasali menulis buku Change yang disusul dengan Re-code Your Change DNA. Begitupun Presiden baru AS Barack Obama yang mengusung tema perubahan. Tema kampanye beberapa calon presiden Indonesia juga sebagian mengusung tema yang senada. Dunia terus berubah, dan perubahan semakin cepat. Celakanya, banyak orang yang tidak ingin berubah. Kita menyebutnya status quo.

Jaman dahulu kala di era berburu dan meramu, masyarakat purba sangat mudah mencari makan. Mereka masuk hutan dan langsung mendapat makanan apapun dengan gizi yang terjamin. Bisa makan buah, sayuran maupun daging panggang. Bayangkan seandainya di waktu itu anda hidup, terus tiba-tiba ada seseorang yang berocok tanam dan memelihara ternak. Waktu itu banyak orang mentertawakan, mungkin saja termasuk anda. “Buat apa capek-capek menanam, sedangkan di hutan masih berlimpah makanan,” begitu kira-kira komentar sinis masyarakat, tentunya dengan bahasa manusia jaman itu.

Beberapa bulan kemudian orang yang menanam itu tidak lagi keluar masuk hutan. Ia bisa bersantai menikmati hidup dan bisa menetap dan membangun tempat tinggal. Mata masyarakat mulai terbelalak. “Ooh,  rupanya dia yang lebih baik. Capai di depan, hasil lebih banyak di belakang. Hidup pun lebih nyaman”, kata mereka dengan komentar positif, tak lagi mencemooh. Sejak itu masyarakat mulai mau berubah. Mereka memasuki era yang disebut era pertanian. Konon era ini kecepatan kerja era pertanian 50 kali lipat dibanding era berburu.

Ratusan tahun kemudian, terjadi perubahan besar yang tingkat kecepatannya 50 kali lipat dibanding era pertanian. Pertanian tak lagi hanya memindahkan tanaman dan hewan dari hutan ke ladang, melainkan dibuat dengan perhitungan skala ekonomi, pembuatan spesifikasi bidang usaha dan pengembangan bermacam produk. Ada orang yang khusus membuat pupuk, ada yang khusus menanam bibit, ada yang khusus membuat obat, ada yang khusus memasarkan. Banyak pula yang lebih tertarik mengolah hasil pertanian. Penemuan kendaraan dan teknologi pendukungnya makin mempercepat perubahan besar ini. Kita menyebutnya era industri. Dalam artikel beberapa edisi lalu saya sempat menulis, di era industri, tanah produktif bukan lagi hanya lahan subur. Ada orang kreatif yang menyulap lahan tandus dengan hasil yang berlipat dibanding tanah subur. Caranya adalah dengan membangun pabrik atau perumahan.

Begitulah, perubahan terus terjadi. Kita selalu memasuki dunia baru. Sepuluh tahun lalu masih sedikit orang menggunakan telepon seluler, sekarang pemulung sampah, pembantu rumah tangga, bahkan pengemis pun memiliki telepon seluler. Penggunaan internet juga melonjak sedemikian cepat. Konon di Indonesia pengguna internet naik di atas 50% per tahun. Kita dapat menyebut era informasi, ada juga yang menyebut era pekerja pintar. Orang kaya di era ini tidak harus punya pabrik baja atau kilang minyak ataupun lahan pertanian. Mereka bisa hebat dengan hidup dari royalti atas hak cipta, ada juga yang hebat karena jual beli surat berharga.

Di tengah perubahan ini, termasuk perubahan dalam skala mikro di lingkungan kerja atau lingkungan masyarakat, ada saja orang yang suka bernostalgia tentang indahnya masa lalu dan menyesali masa sekarang. Ada pula yang tidak sadar adanya arus perubahan. Dr. Soehadji pernah mengatakan, di setiap perubahan, selalu ada empat kelompok orang, yakni orang-orang yang memimpin perubahan, orang yang selalu menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi, orang yang menolak perubahan, dan yang paling celaka adalah orang yang tidak sadar akan adanya perubahan.

Orang yang menolak perubahan sering menyesali masa sekarang dan senang bernostalgia tentang masa lalu. “Dulu waktu si B memimpin, kita hidup enak, tidak seperti sekarang apa-apa serba sulit”. Kenyataannya, pada waktu dulu si B memimpin pun ia mengatakan “dulu waktu si A memimpin hidup lebih nyaman, tidak seperti si B sekarang”.

Orang-orang yang menolak perubahan sering tampil sebagai orang yang kelihatan cerdas tapi lebih suka menjadi pengamat, padahal sesungguhnya dialah pelakunya. Melihat keberhasilan orang dia bilang beragam nada sinis, misalkan,” itu gampang, saya sebenarnya juga bisa lebih dari itu kalau ada modal, Dia seperti itu juga kurang optimal”.

Melihat kegagalan orang ia berkomentar,” wah kok bisa begitu ya, mestinya kan begini!”.

Pembaca, kita tahu, tak ada orang hebat yang kerjanya hanya menyalahkan orang lain. Mereka yang hebat senantiasa bertindak untuk merubah dirinya. Para pemimpin hebat memimpin perubahan menjadi lebih baik. Pribadi-pribadi yang hebat selalu berusaha berubah menjadi lebih baik. Dan itu semua tidak tergantung pada usia manusia. Mario Teguh bahkan berpendapat, orang lanjut usia yang berorientasi pada kesempatan (selalu menyesuaikan dengan perubahan) adalah orang muda yang tak pernah menua, sedangkan orang muda yang berorientasi pada keamanan alias tidak ingin berubah, merekalah pribadi yang sudah menua di masa muda.
Kata Mario Teguh, melakukan perubahan membutuhkan keberanian. Sedangkan keberanian itu akan muncul dari orang yang punya rasa takut. Hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Maka, bila merasa takut, kita akan punya kesempatan untuk bersikap berani. Maka jangan takut terhadap rasa takut anda. Takut adalah modal untuk berani.
Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan ketakutan akan perubahan adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. Kita akan menjadi lebih damai bila yang kita pikirkan adalah solusi atas masalah yang kita hadapi. Ayo berubah !***

No comments:

Post a Comment