CATATAN BAMBANG SUHARNO TENTANG MUTIARA KEHIDUPAN, BISNIS, KEPEMIMPINAN

Ilmu Cicak di Dinding

Laksana Cicak, itulah yang kita mesti lakukan dalam meraih rejeki. jika datang "seekor nyamuk peluang sukses" langsung saja ditangkap "hap". Ingatlah lagu cicak di dinding.

Mutiara Kehidupan

Jika merantau ke kota besar, janganlah hanya sekedar numpang tua. Gigihlah berprestasi. Jangan Pulang Sebelum Menang

Melampaui Efektivitas

Jika kita ingin merubah nasib, maka perlu dimulai dengan merubah kebiasaan, karena kebiasaan adalah modal keberhasilan.

Tambang Berlian di Lahan Kita

Jangan mudah tergiur dengan dunia luar yang tampak menjanjikan berlian, karena sangat mungkin berlian yang Anda cari tersembunyi di lahan kehidupan Anda.

Menikmati Bungkus Permen

Jika kita membeli permen, kita sebenarnya hanya membutuhkan isi permen, namun kita harus menerima juga bungkus permen yang nggak enak kalau dimakan. Begitupun dalam kehidupan, kita ingin kesuksesan, namun harus menerima bungkusnya juga yang mungkin terasa getir

Saturday, January 26, 2019

Sang Guru Pembuka Jalan Masa Depan



Satu langkah kecil dari seorang manusia (pemimpin), dapat menjadi satu lompatan besar bagi kemanusiaan (Neil Amstrong 19302012)


Siang itu sepulang dari kantor, pak Rusdi tiba-tiba berhenti di depan rumahku dan bercakap-cakap dengan bapakku yang sedang menyapu halaman di depan rumah. Demikian Ayo Sugiryo alias Suryo, seorang guru SMA Internasional di Purwokerto , memulai tulisannya yang berjudul “Sang Guru Penyelamat” dalam sebuah buku “Mimpi-mimpi Kecil dan Seribu Kemarau

Berikut saya kutip sebagian kisahnya .
Sebagai anak kampung kelas VI SD, melihat seorang kepala sekolah mampir ke rumah, aku lari ketakutan hingga menyelinap di kamar ruang depan sambil berusaha menguping percakapan dua orang dewasa itu. Antara Bapak dan Pak Rusdi, kepala sekolah SD. Ada apa Pak Rusdi tiba-tiba mampir ke rumahku? Saat itu saya kelas 6 SD di sekolah yang dipimpin Pak Rusdi.

“Beneran lho kang. Jangan sampai Suryo tidak lanjut SMP. Kasihan anak lanang satu-satunya. Pinter lagi sekolahnya.” Pak Rusdi tiba-tiba menasehati bapak. Bapak kelihatan semakin tidak mengerti maksud Pak Rusdi. Untuk apa dia merayu-rayu anaknya untuk lanjut sekolah?



Nuwunsewu (mohon maaf-red) Pak Kepala. Biaya dari mana untuk si Suryo sekolah SMP? SMP itu kan biayanya secikrak (satu keranjang sampah-red). Mau jual apa saya Pak?” Jawab Bapak  jujur. Saat itu, jenjang sekolah tingkat SMP sudah luar biasa di desaku dan luar biasa mahalnya menurut ukuran orang tuaku dan orang tua teman-temanku yang sebagian besar penghasilannya dari  usaha tani yang lahannya tidak seberapa luas.

Dari balik dinding bambu kamar, aku memejam-mejamkan mata dan melebar-lebarkan daun telinga untuk dapat konsentrasi penuh dengan percakapan mereka. Hatiku berdebar-debar mendengarkan percakapan mereka yang menggosip tentang diriku. Sungguh saya sangat terharu, rupanya Pak Rusdi sebegitu perhatian terhadapku. Sampai-sampai menginginkanku harus lanjut ke SMP. Dalam benakku, apakah semua bapak teman-temanku juga didatangi dan ditanyai seperti itu? Ah, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah bahwa Pak Rusdi benar-benar baik dan dia sedang memperjuangkan masa depanku. Ya Allah! Terimakasih engkau telah mengirimkan malaikat terbaik untukku!

“Kang Maryo apa tidak kasihan sama Suryo. Suryo itu anaknya rajin. Di sekolah kerjaannya baca buku di perpustakaan. Dia itu nggak pernah ke warung depan sekolahan pas istirahat. Apa kang Maryo ndak tahu kalau  si Suryo itu seneng belajar ? Seneng baca buku?” begitu pak Rusdi terus merayu dengan menyampaikan fakta-fakta tentangku.

Aku pun bingung. Dari mana Pak Rusdi sebagai Kepala Sekolah tahu kalau aku suka membaca dan belajar? Dari mana Pak Rusdi tahu kalau aku ingin sekolah terus? Aku tak habis pikir mengapa pak Rusdi yang sangat memahami aku dan mengerti keinginanku. Ah, bagiku Pak Rusdi itu seorang guru yang hebat yang menginginkan anak didiknya tak berhenti hingga sekolah dasar. Dia bagaikan sang penyelamat bumi masa depanku yang hampir kiamat.

Bapakku tampak manggut-manggut, mungkin otaknya sedang berfikir keras terkena hasutan malaikat pencatat kebaikan. Antara bisa dan tidak untuk melanjutkan anak lelaki satu-satunya ke jenjang pendidikan SMP. Waktu itu anak-anak desa Tlaga, Kecamatan Gumelar (berjarak 40 km dari Kota Purwokerto Jawa Tengah)  yang sekolah SMP hanya berkisar anaknya pegawai tingkat desa seperti anak mantri puskesmas, anak guru, anak mandor perhutani, dan anak lurah. Untuk anak petani biasa seperti aku, lulus SD harus siap dengan segala konsekuensi masyarakat kalangan bawah. Hanya ada dua pilihan; tetap tinggal di desa dan siap membantu orang tua bertani atau pergi merantau ke Ibukota.
Dan sekarang aku akhirnya benar-benar bertengger di atas bukit impianku, melanjutkan sekolah di SMP. Terima kasih Bapak, terimakasih Pak Rusdi!

***
Silaturahmi dengan keluarga di Purbalingga

Saya ikut terharu membaca kisah hidup Suryo . Gara-gara perhatian seorang Pak Rusdi, orang tuanya berjuang keras mencari nafkah untuk menyekolahkan Suryo hingga SMP. Bahkan kemudian dengan berbagai upaya, ia mampu melanjutkan hingga pendidikan tinggi.  Ia menceritakan sebuah ketulusan dan kejujuran seorang guru yang berdampak sangat besar bagi muridnya. Seorang Rusdi baginya bukan sekedar guru namun pembuka jalan masa depan yang semula gelap.

Berkumpul keluarga besar di kala lebaran (2015)
Mungkin bagi Pak Rusdi, pekerjaan bernegosiasi dengan orang tua murid hanyalah langkah kecil saja. Karena dalam jiwanya sudah tertanam untuk mengabdi sebagai pendidik secara total, bukan sekedar mengajar di kelas. Jika ada anak membolos beberapa hari saja, tak segan-segan ia datangi rumahnya untuk mencari informasi penyebab nya. Dan sebaliknya jika ada anak yang pintar, ia berjuang agar orang tuanya berjuang untuk menyekolahkan anaknya.

Apa yang dilakukan Rusdi adalah tindakan seorang pemimpin, yang melihat dimana ada benih potensial untuk masa depan. Ia juga berperan sebagai motivator untuk para orang tua agar memperjuangkan anaknya untuk bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Maklum, ia mendapat tugas di daerah terpencil dimana para petani pada umumnya tidak berhasrat menyekolahkan anaknya, yang penting bisa baca tulis saja.

Kehadiran Rusdi yang disebut sebagai sang guru penyelamat telah membuat nasib seorang suryo yang semula hampir senasib dengan teman seusianya menjadi petani atau buruh tani, berubah seketika menjadi siswa SMP dan kemudian bisa melanjutkan hingga sarjana.

Ketika terdengar kabar bahwa Bapak Rusdi meninggal dunia tanggal 21 Januari 2019, Suryo memposting copy buku dan mengucapkan, terima kasih yang tak terhingga dan Selamat Jalan untuk Pak Rusdi. “Saya kehilangan sosok seorang pendidik seperti Pak Rusdi, Sang Guru Penyelamat” kata Suryo.

Rusdi Hadiyuwono kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah, 18 September  1938. Lulus dari Sekolah Guru Atas (SGA) di Purwokerto, ia mendapat tugas ke pelosok desa terpencil tahun 1956. Di saat itu di Gumelar sedang berkecamuk perang melawan DI/TII. Konon saat pamit mengemban tugas, orang tuanya menangis agar jangan berangkat. Namun Rusdi muda tetap berangkat menjalankan tugas negara merintis sekolah dasar mulai dengan pinjam rumah penduduk sebagai kelas, hingga pemerintah membangunkan bangunan SD yang terbuat dari kayu dan bambu.

Penghayatannya sebagai guru di desa terpencil merupakan bagian terbesar dari perjalanan pengabdiannya . Ia selalu hafal dengan murid-muridnya bahkan dengan para orang tua muridnya.

Dan saya pun sangat terharu membaca tulisan yang diposting di facebook oleh Ayo Sugiryo (Suryo), karena yang ditulis itu adalah ayah saya sendiri yang berpulang 21 Januari 2019 lalu.  Ia hanya seorang Guru SD, bukan tokoh nasional, namun ternyata apa yang dilakukan ayah saya begitu dikenang oleh muridnya hingga namanya diabadikan dalam sebuah buku.

Betul kata mutiara kehidupan dari Neil Amstrong, Satu langkah kecil dari seorang manusia (pemimpin), dapat menjadi satu lompatan besar bagi kemanusiaan

Selamat Jalan Ayah.
Kami sangat bangga dan bersyukur menjadi anakmu.
Engkau telah tiada, tapi keteladanmu tetap hidup.
Semoga pengabdianmu tak sia-sia di hadapan Allah SWT.
Amien Ya Robbal Alamin.***


Tulisan ini saya susun untuk mengenang Ayah Kami Tercinta H. Rusdi Hadiyuwono (1938-2019) dan sebagai ucapan terima kasih kepada pak Sugiryo penulis buku "Mimpi-mimpi Kecil dan Seribu Kemarau" serta terima kasih kepada para guru dimanapun berada yang telah mengabdi dengan  tulus ikhlas .

Kami juga mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada Saudara, sahabat, tetangga, handai taulan yang telah memberikan bantuan dan perhatian begitu besar serta doa yang tulus. Antara lain kepada :
1. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Bapak Dr. Drh. I. Ketut Diarmota MP, beserta jajaarannya
2. Pengurus Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI)
3. Keluarga besar PT Medion
4. Komisaris, Direksi dan Karyawan PT Gallus Indonesia Utama
5. Bapak Roni Fadillah ketua Keluarga Alumni Fakultas Peternakan (Kafapet Unsoed) Jabodetabek  dkk 
6. Bapak Bambang Rijanto Japutra (BRJ) Ketua Kafapet Pusat dan tim.
7. Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar Indonesia )
8. Forum Media Peternakan (Format)
9. Sahabat yang hadir sebagai pribadi maupun mewakili organisasi antara lain  Pak Bambang Basuki Catur, Pak Dwi Suranto, Pak Kuntoro , Pak Sugeng Arief , Pak  Isro Suhadi (Kafapet angkatan 85), Bu Tarti, Pak Agus Ponco Sugiono (alumni SMA 1 Purwokerto), Pak  Lukman dkk (alumni SMP 1 Ajibarang), , Bambang Rijanto Japutra (BRJ) dan Arief Aceh (Kafapet Pusat), Kohar dan Rizky Yunandi (PT Gallus) dan lain-lain yang tidak bisa saya sebut satu per satu.










Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala yang terbaik. Amien YRA. 

Bambang Suharno dan keluarga

Share:

Saturday, January 19, 2019

SEPULUH Nasehat Sayyidina Ali

Ada 10 kata-kata nasehat Sayyidina Ali bin Abi thalib yang layak sebagai kata mutiara kehidupan kita yaitu :

  1.  Dosa terbesar adalah “Ketakutan”
  2.  Rekreasi terbaik adalah “Bekerja”
  3.  Musibah terbesar adalah “Keputusasaan”
  4.  Keberanian terbesar adalah “Kesabaran”
  5.  Guru terbaik adalah “Pengalaman”
  6.  Misteri terbesar adalah “Kematian”
  7.  Kehormatan terbesar adalah “Kesetiaan”
  8.  Karunia terbesar adalah “Anak yang sholeh”
  9.  Sumbangan terbesar adalah “Partisipasi”
  10.  Modal terbesar adalah “Kemandirian”

Share:

Monday, January 07, 2019

Menikmati Tahun Baru 2019 di Mekah

Alhamdulillah tanggal 1 Januari 2019 saya beserta istri berkesempatan untuk berada di kota suci Mekkah, menjalankan ibadah umroh sehingga dapat menikmati "suasana tahun baru" di tanah suci, yang sangat berbeda dengan suasana tahun baru di kota lain di muka bumi ini.

Berangkat bersama travel Risalah Madina tanggal 28 Desember 2018 saya mengambil paket umroh 8 hari. Rombongan kami berjumlah 70an orang yang berasal dari Jakarta,  Semarang Surabaya dan Padang.

Untuk Anda yang belum pernah menjalankan ibadah umroh perlu diketahui bahwa bulan Desember merupakan bulan yang cukup nyaman untuk ibadah umroh. Suhu udara di Mekkah dan Madinah berkisar 20 sampai 25 derajat Celcius, sejuk seperti di kawasan Puncak Bogor . 

Ini yang mungkin menyebabkan bulan Desember  menjadi bulan favorit bagi masyarakat Indonesia untuk menjalankan ibadah Umroh.  Lagi pula bulan Desember adalah bulan liburan sekolah dan para karyawan bisa mengambil cuti. 

Berangkat tanggal 28 Desember 2018 menuju Kuala Lumpur. Menikmati suasana "semalam di Malaysia". Tanggal 29 Desember pagi hari, kami terbang ke Jedah dengan waktu tempuh sekitar 8 jam.
Ada dua cara untuk ibadah umroh,  yaitu diawali ibadah di Madinah kemudian ke Mekah, atau dimulai dengan umroh di Mekah,  baru ke Madinah.
Rombongan saya dari Jedah langsung ke Mekah.

Tata tertib ibadah umroh sangat detail, mulai dari urutannya (rukun umroh) dan larangan-larangannya
Ibadah umroh yang langsung menuju Mekah diwajibkan memakai kain ihrom sebelum kota Yalamlam yang posisinya sebelum Jedah.  Sehingga kami para jamaah harus menggunakan kain ihrom di atas pesawat menjelang Yalamlam.
Ketika posisi Yalamlam semakin dekat awak pesawat berulang kali mengumumkan agar penumpang yang mau umroh harap segera berihrom.


Selain masjidil haram sebagai pusat ibadah umroh dan haji, ada icon penting di Mekah yaitu Tower Zam Zam yang posisinya persis di samping masjidil Haram. Kebetulan hotel tempat kami menginap tidak jauh dari icon ini.

Ibadah umroh disertai dengan citytour ke lokasi penting yang terkait dengan sejarah Nabi Muhammad saw, antara lain jabal nur, jabal rahmah, jabal uhud, gua hiro , tempat kelahiran Nabi dan lain lain












Ini adalah bukit dimana terdapat gua Hira tempat dimana Nabi Muhammad saw menerima wahyu yang pertama.

Salah satu cara menikmati indahnya suasana masjidil haram adalah dengan sholat di rooftop (lantai paling atas), setelah itu menikmati pemandangan jamaah dari seluruh dunia yang sedang mengelilingi kabah (tawaf). Inilah yang saya lakukan di malam tahun baru 2019. Ini adalah pemandangan yang luar biasa. Kabah adalah tempat ibadah dimana 24 jam nonstop selalu ramai dikunjungi umat muslim dari seluruh dunia.


Potong rambut setelah umroh, merupakan bagian dari ibadah

.
Mesjib Quba, merupakan mesjid yang pertama dibangun Rasulullah di Madinah
Makan Rasulullah di kawasan Masjid Nabawi Madinah

Tanggal 1 januari 2019 sore hari kami berangkat menuju Madinah dengan waktu tempuh 6 jam menggunakan bus. Jarak Mekah-Madinah sekitar 480 km.

Kota ini lebih dingin dari Mekkah. Di kota ini pula jamaah bisa menikmati wisata belanja mulai dari kurma, parfum, perlengkapan ibadah, pakaian dan sebagainya.
Anda yang tidak bisa bahasa Arab atau Inggris, tidak usah khawatir, hampir semua pedagang Arab bisa berbahasa Indonesia. Mereka sangat senang melayani jamaah Indonesia yang kebanyakan sudah siap berbelanja dengan jumlah yang cukup banyak dibanding rata-rata jamaah dari negara lain. Bahkan mata uang rupiah bisa dipakai untuk transaksi jual beli di sana dengan kurs Rp 4.000/real.

Harga harga barang tergolong murah, jauh lebih murah dibanding harga Eropa, bahkan dengan harga Jakarta.***


Share: