Saturday, March 18, 2017

Membingkai Ulang Sebuah Peristiwa

Manusia akan lebih tenang dan bahagia hidupnya jika mampu membingkai ulang sebuah kejadian menjadi lebih positif dan bermanfaat.
Riyadin (baju putih) bersama saya dalam sebuah seminar.
Ia lahir dari keluarga yang kurang mampu. Walaupun demikian, diantara saudara-saudaranya, hanya dialah yang bisa bersekolah hingga jenjang tinggi. Itu bisa terjadi lantaran ada salah satu pamannya di Jakarta yang mengajaknya untuk tinggal bersamanya. “Karena kebaikan beliaulah saya bisa bersekolah hingga jenjang SLTA, dan kemudian saya bisa membiayai kuliah dari usaha saya sendiri,”kata Riyadin, seorang produsen sususari kedelai di Bekasi yang mengawali usahanya dengan usaha percetakan skala kecil ketika masih sekolah, sebagaimana ditulis Harian Bernas Jogjakarta.
Riyadin memulai usaha dengan belajar sablon sejak masih sekolah. Tidak ada yang mengajarinya teknik pemasaran. Hanya dengan semangat saja ia melakukan pemasaran dengan cara menawarkan cetakan kartu nama kepada guru-guru di sekolah dan menjual jual stiker hasil sablon kepada teman-teman di sekolah..
Tidak ada pesanan dalam jumlah besar. Hanya beberapa saja yang terjual. Tapi baginya, itu merupakan capaian yang luar biasa. Bahagia rasanya hingga ia bisa berkenalan dengan pemilik sebuah sekolah ketika mengantarkan barang pesanan sekolah dari pamannya yang berupa baju-baju seragam sekolah.
Ketika memasuki halaman sekolah itu, terbersit di benaknya, sebuah sekolah yang berhubungan dengan buku dan alat pendidikan, pastilah membutuhkan produk-produk cetakan. Maka, ia memberanikan diri mengajukan penawaran kepada pemilik sekolah itu. Tak disangka, responnya positif. Pemilik Sekolah itu memintanya menyebutkan barang cetakan apa saja yang bisa ia buat. Riyadin gelagapan, bingung, dan hampir tak bisa menjawab, karena sesungguhnya ia belum banyak tahu tentang jenis-jenis pekerjaan cetakan.
“Cetakan apa saja bisa saya kerjakan Pak,” jawabnya asal saja untuk menutupi kebingungannya. Dari pemilik sekolah itulah ia  mendapatkan pesanan barang cetakan dengan nilai Rp 250.000.
Ketika barang cetakan jadi dan siap dikirimkan, ia menjadi bingung karena harus mengangkat barang yang cukup berat. Kurang lebih 40 kg bobotnya yang harus dibawa dengan menaiki kendaraan umum karena tak memiliki kendaraan sendiri. Bahkan beberapa kali ia disumpah serapah orang karena mengganggu kenyamanan mereka di angkutan umum. 
Turun dari angkot menuju lokasi pengiriman, barang cetakan ia angkat dengan berjalan kaki. Jari-jari tangannya melepuh. Ingin rasanya menyetop ojeg motor untuk mengantarkan menuju lokasi pengiriman, namun uang tak mencukupi.
Sambil merasakan sakit, ia berbicara dalam hati , “Ya Allah, untuk pekerjaan senilai 250 ribu saja saya seberat ini proses yang harus dilalui.” Sejurus kemudian ia tersadar, tidak boleh mengeluh. Buru-buru ia mengubah “makna” dalam pikirannya. Ia teriakkan keras-keras dalam hati, “Oh bukan ya Allah. Ini bukan 250 ribu. Tapi ini adalah seperempat juta. ini jutaan ya Allah, bukan ratusan ribu. Saya jutawan muda ya Allah.”
Ajaib setelah mengungkapkan hal tadi, semangat muncul kembali dan langsung mengangkat barang tersebut dan mengantarnya sampai tujuan dengan langkah yang terasa lebih ringan. Lega rasanya ketika pembayaran ia terima. Lebih membahagiakan lagi, pekerjaan demi pekerjaan dari sekolah tersebut dipercayakan kepadanya. Sampai pada saat penerimaan siswa baru tahun berikutnya, ia  mendapat order cetakan senilai Rp. 50.000.000. Sebuah angka yang sangat besar untuk ukuran seorang Riyadin yang waktu itu masih berusia 20 tahunan.
Di kemudian hari Riyadin baru memahami bahwa apa yang ia lakukan dengan mengubah makna Rp 250 ribu menjadi seperempat juta adalah teknik reframing.
Dalam ilmu Neurolinguistic Programming (NLP), reframing adalah kemampuan untuk membingkai ulang makna dari suatu peristiwa dengan bingkai yang lebih baik tanpa mengubah kejadian itu sendiri. Keterampilan reframing ini dapat dilatih menjadi kebiasaan yang positif.

Ada dua jenis reframing, yaitu meaning Reframing dan Context Reframing . Meaning Reframing atau sering juga disebut sebagai Content Reframing adalah membingkai ulang makna dari suatu peristiwa dengan memberikan arti baru yang lebih positif dan bermanfaat atas sebuah peristiwa. Contohnya, Riyadin yang memaknai Rp 250 ribu seperempat juta rupiah, sehingga lebih bersemangat  untuk meraih sukses. Atau melihat jalan macet dengan makna  jalan penuh mobil, banyak orang kaya dan banyak peluang usaha.

Context Reframing adalah membingkai ulang suatu keadaan dengan memindahkan atau mencari  konteks baru yang lebih sesuai. Dalam teori NLP ada istilah yang menyatakan “ada satu konteks yang tepat untuk setiap perilaku”. Contohnya, daripada merasa minder karena badannya terlalu tinggi, seorang remaja putri (tinggi badan 175 Cm) dapat melakukan reframing dengan memindahkan konteksnya ke dalam konteks lain. Misalnya, tinggi badan diatas rata-rata adalah modal yang bagus untuk menjadi model, artis, pramugari, Polisi Wanita atau konteks-konteks lainnya yang membutuhkan syarat tinggi badan tertentu dalam profesi tersebut.

Dengan memandang masalah melalui teknik reframing inilah, Riyadin menjadi lebih tenang menghadapi berbagai tantangan usaha. Hingga kemudian merintis usaha produsen sari kedelai bermerek Sale dengan jumlah karyawan lebih dari 100 orang.

Manusia akan lebih tenang dan bahagia jika mampu membingkai ulang apapun peristiwa yang terjadi dalam hidupnya dengan makna yang lebih positif dan bermanfaat. Termasuk dalam menyikapi situasi politik di suatu negara.***

Bambang Suharno


No comments:

Post a Comment