Prof Abdul Basith,seorang dosen dan pembicara seminar, punya cara untuk memotivasi kita dengan empat
pertanyaan yang simple sekaligus tajam. Ia menggunakan Ade Rai sebagai model
sukses.
Pertanyaannya
diawali begini, “Kapan Ade Rai memutuskan ingin menjadi binaragawan hebat, pada
saat badannya masih kecil atau sudah seperti di foto itu? “. Ia menanyakan
sampai memperlihatkan foto Ade Rai sebagai binaragawan. Kita pasti
menjawab pada saat badannya masih kecil.
![]() |
Prof Abdul Basith |
Pertanyaan
selanjutnya,”Mungkinkah badan Ade Rai membesar seperti itu tanpa angkat
beban? “
Jelas tidak
mungkin. Ia harus disiplin angkat beban setiap hari sepanjang tahun. Bukan
pekerjaan mudah tentunya.
“Apa
hukumnya mengangkat beban bila ingin punya badan seperti Ade Rai, wajib
atau hanya sebagai pilihan ?” tanya professor Abdul Basit berikutnya.
Jawab kita
adalah pasti wajib. Kalau hanya optional, tentunya tidak akan menjadi kekar
sebagaimana badan Ade Rai sebagaimana ditunjukkan di foto itu.
Pertanyaan
terakhir, “Siapa role model AdeRai?”. Saya tidak tahu, namun tentunya ia punya
role model seorang binaragawan sukses, sebagai motivasi meraih target berbadan
sehat dan kekar.
Begitupun
dalam kehidupan kita. Jika kita mau meraih cita-cita tertentu, yang
pertama-tama adalah memutuskan untuk menetapkan target sedini mungkin. Kita perlu ikhlas menerima beban tantangan
hidup yang berat. Kita harus melatih diri mengangkat dan membawa beban berupa kesulitan dan ujian.
Dan sebaiknya ada
orang sukses yang kita kagumi sebagai role
model sukses kita.
Mumpung
bulan Agustus, saya coba hubungkan dengan cita-cita para pendiri bangsa. Saya
sangat bangga dengan Indonesia, karena proses kemerdekaannya sangat rumit,
melelahkan, banyak pengorbanan, penuh perjuangan. Dibuat menjadi puluhan film
sepertinya tidak habis-habis.
Sejarah
mengatakan, lahirnya pergerakan Boedi Oetomo tahun 1908 adalah dimulainya pola
perjuangan yang berbeda dari sebelumnya.
Pada era sebelumnya perjuangan dilakukan dengan perang fisik melawan
penjajah di masing-masing daerah kerajaan. Sejak muncul organisasi modern
bernama Boedi Oetomo, mulailah dengan pola pergerakan organisasi modern yang
berjuang secara intelektual. Sejak itulah keputusan untuk menjadi negara
merdeka disepakati oleh tokoh perjuangan.
Dilanjutkan
dengan Soempah Pemoeda tahun 1828 yang menyepakati berbangsa satu bangsa
Indonesia, bertanah air satu tanah air Indonesia dan menjunjung tinggi bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Di tengah-tengah ratusan bahasa yang ada di
nusantara, kesepakatan menggunakan Bahasa Indonesia menjadi sangat bermakna.
Lagu Indonesia raya yang dikumandangkan di hari Soempah pemoeda adalah bukti
kuat tentang penetapan cita-cita kemerdekaan.
Jadi
keputusan untuk menjadi negara merdeka dilakukan jauh hari sebelum tahun 1945.
Dibutuhkan waktu setidaknya 40 tahun memperjuangkan kemerdekaan secara modern.
Jika Ade Rai
wajib menangkat beban setiap hari agar tercapai cita-cita sebagai binaragawan
ternama, maka demikian pula beban yang harus dipikul oleh para pejuang.
Tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Shahrir dan
sebagainya harus rela dipenjara, dibuang ke pulau terpencil, diawasi secara
ketat pergerakannya. Mereka harus terlatih untuk mengatur strategi. Sikap
pantang menyerah menjadi wajib hukumnya.
Mungkinkah
cita-cita kemerdekaan bisa diraih hanya dengan berpangku tangan? Jelas tidak.
Para pejuang sudah tahu bahwa mereka harus menerima banyak beban kesulitan,
harus berkorban pikiran, tenaga dan harta demi sebuah cita-cita bersama.
Sebagai orang terpelajar di masa Hindia Belanda, sangat mudah jika mereka
memilih untuk hidup nyaman, yakni dengan bekerja sebagai pegawai pemerintah
Hindia Belanda dengan gaji besar. Namun mereka memilih untuk mendapat beban
perjuangan. Jadi jelas, menanggung beban adalah wajib bagi orang yang ingin
meraih cita-cita.
Lantas
siapakah role model dari
kemerdekaan? Para tokoh pergerakan itu
sudah paham sejarah dunia, tentang kolonialisme dan neokolinialisme. Dari sanalah mereka mendapat inpirasi tentang
kemerdekaan. Dan sejak Indonesia merdeka tahun 1945, Indonesia menjadi role model negara lain untuk segera
menyusul Indonesia menjadi negara merdeka. Karena Indonesia berani merdeka
terlebih dahulu dibanding negara jajahan lain, maka Indonesia menjadi pemimpin
negara-negara Asia Afrika. Mereka mengagumi kehebatan para pemimpin pergerakan
Indonesia yang berani memproklamirkan kemerdekaan di tahun 1945 dimana setelah
itu masih harus berjuang melawan penjajah yang belum rela melepas Indonesia
sebagai negara merdeka. Barulah tahun 1949
Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.
Nah itulah
kisah sukses kemerdekaan Indonesia. Bagaimana dengan cita-cita Anda? Sudahkah
Anda tetapkan cita-cita 10 tahun ke
depan? Bagaimana beban yang akan Anda terima? Bagiamana latihan Anda agar lebih
kuat menghadapi tantangan? Siapakah role
model dari cita-cita Anda?
Selamat,
Anda sudah siap meraih bintang kesuksesan.***
0 Comments:
Posting Komentar